Trauma

“Wan, anterin ke Simpang Lima dong,” Rian mendatangi rumah Iwan setelah sholat maghrib. Rencananya mereka mau beli buku.
“Ntar ya,” tawar Iwan.
Jali nggak mau menunda keberangkatannya. Rian pun menuruti permintaan Iwan.

Motor melaju dengan kecepatan sedang. Melewati tanaman tebu sepanjang jalan. Tebu yang setinggi manusia menambah suasana seram jalan desa Ngurensiti menuju kota. Saat pergi, Iwan tak tahu bahwa ada bala yang mengancam, sehingga ia pun melangkah dengan ringan.

BRAK!
Dua motor beradu. Rian mencelat. Iwan bersimbah darah. Pergelangan tangannya patah. Betisnya mencium knalpot. Jari kaki robek. Iwan tak bergerak. Pingsan!

Sorot lampu mobil pick up milik Pak Min tak membuat Iwan tersadar. Justru Pak Min kaget melihat tetangganya kecelakaan. Rumah Iwan persis di depan rumah Pak Min. Biasanya dia bantu angkat-angkat kelapa muda. Tanpa ba bi bu, Pak Min mengangkat tubuh Iwan. Dipangku sambil nyetir. Sampai di Rumah Sakit, Pak Min tidak sungkan tanda tangan sebagai penanggung jawab biaya Rumah Sakit.

Orang tua Iwan segera menyusul setelah mendengar kabar anaknya kecelakaan. Melihat kondisi motor yang rangsek, mereka tak tega membayangkan kondisi anaknya. Isak tangis mengiringi perjalanan mereka ke Rumah Sakit. Sampai Rumah Sakit, Iwan masih tak sadarkan diri. Terhitung sudah tiga hari belum sadar.

Pak Min sampai di rumah. Masih bercelana merah penuh darah, tembus sampai pakaian dalamnya. Bu Min sampai ingin mual saat mencuci celana Pak Min. Baru direndam saja sudah tidak kuat melihat air satu ember yang memerah seketika.

“Mending dibuang saja, Mbak,” saran salah satu tetangga pada Bu Min

Karena celana Pak Min tinggal beberapa potong.  Jadi sayang kalau celana itu dibuang. Pak Min pun turun tangan mencuci sendiri celananya.

“Kalau aku dikaruniai uang banyak, nggak akan beliin motor buat Rizki. Tak bisa kubayangkan kalau yang kupangku tadi adalah anakku. Berkali-kali aku temui orang kecelakaan di jalanan. Aku jadi trauma,” Pak Min menumpahkan isi hatinya pada istrinya.

“Iya, Pak. Merinding aku bayangin kecelakaan. Apalagi si Rizki juga suka ugal-ugalan di jalan. Untung motor kita kejual ya, Pak.”

Setelah opname dua minggu, Iwan boleh pulang. Tapi masih pincang jalannya. Total biaya sekitar enam juta rupiah. Masih harus check up sebulan sekali. Setiap check up meghabiskan uang satu setengah juta. Ah…betapa mudah caraMu menghabiskan tabungan untuk sekedar mengingatkan hamba-hamba yang lalai dan Engkau cintai.

PS. Tulisan ini saya persembahkan untuk tetangga saya yang baru saja kecelakaan. Nama-nama saya samarkan. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih berhati-hati.

Ditulis untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh Anazkia disponsori oleh Denaihati.

Saya Tak Resah Nabung di Bank Syariah

Saya memiliki dua rekening di Bank Syariah. Rekening pertama dibuat karena memang tuntutan perusahaan.  Pembayaran gaji langsung masuk ke rekening itu. Lebih praktis, tidak perlu antri lalu dipanggil satu-satu dan dikasih amplop. Setiap ada karyawan baru diwajibkan membuka rekening di Bank itu. Proses pembuatannya mudah dan cepat. Karyawan diminta mengisi formulir pembukaan rekening wadi’ah untuk nasabah perorangan. Tanda tangan bermeterai enam ribu dan harus sama dengan tanda tangan yang tercantum di KTP. Dengan disertai lampiran foto copy KTP. Biasanya Finance atau Office Boy yang mengantar formulir itu ke kantor cabang Melawai. Sehari saja sudah cukup untuk mendapatkan ATM Visa beserta buku tabungan. Aktifasi rekening biasanya setelah tiga hari.

Saya tak resah nabung di bank itu. Tenang-tenang saja meski saldo dibawah seratus ribu. Karena masih bisa diambil cash di bank cabang manapun. Untuk mencairkan cek syari’ah tak perlu repot ke kantor bank syari’ah. Cukup datang ke bank Bukopin konvensional terdekat. Proses pencairan cek berjalan lancar. Malah saya pernah mencairkan cek tanpa menunjukkan KTP asli karena sudah sering bertransaksi di bank itu. Lagian KTP ku hilang dan KTP baru belum jadi. Terpaksa menunjukkan foto copy saja.

Rekening kedua ada karena buat usaha. Buka rekening saat ada Book Fair di Gelora Bung Karno. Fasilitas yang ditawarkan hampir sama dengan bank syari’ah lainnya. Tapi yang ini sudah memiliki fasilitas mobile banking (SMS dan internet banking). Fasilitas tersebut memudahkan pemindahan dana antar rekening dan untuk informasi saldo bagi mereka yang pekerjaannya cenderung mobile. Sayangnya biaya administrasi lebih tinggi dibandingkan dengan bank syari’ah pertama. Ada kejadian menyedihkan baru-baru ini. Saat mau ambil uang dengan ATM rekening kedua, mesin ATM bilang “saldo anda tidak cukup”, padahal saya yakin masih bisa ambil lima puluh ribu rupiah. Saya terkejut mendapati saldo rekening tinggal delapan belas ribu rupiah. Pas bokek pula. Seharusnya dengan judul bank syari’ah tidak sampai mengenakan biaya administrasi yang cukup tinggi. Minimal ada perbedaan yang signifikan antara biaya administrasi syari’ah dan konvensional. Sehingga syari’ah bukan hanya labeling semata, lip sevice saja, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah syari’ah sebagaimana yang diajarkan.

Kenapa saya lebih memilih nabung di bank Syariah? Karena saya ingin bebas riba. Biaya administrasi bank syariah lebih rendah dibandingkan bank konvensional. Saldo minimal yang rendah. Bisa belanja dengan kartu debitnya. Jadi tidak perlu bawa uang banyak kalau mau belanja. Saat saya memenuhi undangan bedah buku di Plaza Bintaro, saya membawa uang seratus ribu rupiah. Tiba-tiba ingin sekalian belanja. Uang cash untuk beli sepatu, sehingga uangnya kurang buat bayar belanjaan kebutuhan bulanan. Setelah tanya kasir bisa gesek dengan kartu debit. Rasanya lega sekali.

Produk standar yang biasanya disediakan oleh Bank Syari’ah antara lain:

  1. Murabahah (jual beli)

  1. Salam (jual beli bayar di muka)
  2. Istishna (jual beli pesanan)
  3. Ijarah (sewa)
  4. Ijarah muntaha bit tamlik (sewa beli)
  5. Mudharabah (bagi hasil)
  6. Musyarakah (bagi hasil)
  7. Hawalah (anjak piutang)
  8. Kafalah (bank garansi)
  9. Qard (pinjaman murni)
  10. Wakalah (L/C)

Dari sebelas layanan itu, saya akan cerita sekelumit tentang musyarakah. Perusahaan tempat saya bekerja, memanfaatkan bank syari’ah sebagai penyedia modal dengan system bagi hasil. Dengan memberi beberapa agunan (rahn), bisa berupa sertifikat tanah, rumah, BPKB. Untuk pencairan kredit, hendaknya melampirkan Purchase Order (PO) proyek terbaru dengan total yang telah ditetapkan misalnya satu milyar. Pengembalian uang dihitung dari time schedule proyek. Misalkan proyek selesai tiga bulan, jadi setelah enam bulan uang harus dikembalikan. Pembagian hasil berdasarkan penilaian bank mengenai penarikan dan pembayaran kredit. Pihak bank juga meninjau kondisi pekerjaan di lokasi secara berkala. Jika pekerjaan selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan, kredit selanjutnya akan diberikan. Selain itu tentu ada tinjauan jumlah PO yang diterima setiap tahunnya. Dengan kerja sama ini, terbukti cash flow perusahaan tetap stabil, meskipun terjadi krisis moneter. Perusahaan lain bangkrut, perusahaan kami justru merekrut tenaga kerja baru.

Begitulah enaknya memilika tabungan syari’ah dan kerjasama dengan bank syari’ah. Tidak resah karena makan riba dan tidak terlilit bunga pinjaman.

Jalan Biruku Kelabu

Setelah semedi beberapa hari, akhirnya saya memutuskan ikut kontes blog yang diadakan teman sendiri (anazkia) dengan sponsor denaihati. Sekedar meramaikan sayembara, kali aja rezeki. Amin.

Lalui Jalan Biru

Jelang pemilu 2009, saya meyakinkan diri untuk pulang kampung dengan membawa tiga misi. Pertama saya harus nyontreng, kedua sekalian jualan buku dan yang terakhir saya akan jenguk saudaraku yang sedang sakit. Cabut dari kantor pukul tujuh, persiapan selama setengah jam. Awalnya saya masih ragu untuk pulang. Tapi temanku menawarkan diri untuk pulang bareng. Saya belum memutuskan untuk pulang bareng dia, SMS nya juga belum saya balas. Sampai dia kirim SMS lagi “Min, jd pulang brng gak? Mumpung sy jg br pulang dr pabrik nih. Klo gak bls tak anggap gak jadi ya. Thx.”

Lama kubaca SMS darinya, saya masih ragu, karena harus ke terminal Pulogadung, sementara ada dua terminal yang lebih dekat dari kosku yakni Lebak Bulus dan Kampung Rambutan. Jika saya berangkat dari Lebak Bulus berarti pulang sendirian, sehingga mengundang kekhawatiran orang tua, jika harus ke Pulogadung berarti makan waktu. Meskipun begitu saya balas SMS nya Iya, sy br siap2, klo mo ke Pulogadung dr Lbk Bulus naik bis no brp? Dia juga nggak tahu dan menyuruhku naik bis jurusan Pulogadung (Ya Iyalah).

Dengan modal nekat, saya berangkat dari kos pukul 19.30 WIB. Jalan kaki sampai pertigaan arah Kostrad, sampai ketemu angkutan D01. Turun di Pasar Jum’at, cari bis jurusan Pulogadung. Beberapa orang yang saya temui berpesan Hati-hati kalo ke terminal Pulogadung, tas nya ditaruh di depan.” Ada lagi yang melarang saya ke Pulogadung dan menyarankan agar saya ke Kampung Rambutan saja. Dengan tegas saya jawab Saya sudah janjian sama teman ketemu di Pulogadung.”

Sampai di Pulogadung pukul 22.15 WIB, janjian ketemu di Musholla. Sembari menunggunya, saya ngobrol dengan seorang Bapak. Selang beberapa menit, saya bertemu dengan temanku. Saya biasa memanggilnya Prof’, karena dia menjabat sebagai ketua salah satu komunitas di kampus.

Sekarang kamu kurus ya.” Komentarnya setelah dia jawab salam yang saya ucapkan.

Masak sih, kata temanku saya kelihatan gemuk kok.” Maksa banget jawabku.

Dah makan pa belum?”

Kau kira aku sempat makan tadi? Kalo kamu dah makan?”

Kalau aku sih santai, ya udah makan dulu aja.”

Ntar kelamaan lagi, beli ganjal perut aja ya.”

Prof bergegas keluar terminal, saya ngintil di belakang, sesekali dia menoleh, mungkin takut saya hilang hehe…

Tasnya berat ya, sini tak bawain,” dua kali dia menawarkan diri

Nggak berat kok,” tolakku, mana tega saya lihat dia bawa tas dua.

Triknya, kalo ke Pulogadung tuh santai aja, jangan bingung.”

Hmmm…..gitu ya, kita mau kemana ya?”

Mau beli makan kan, jangan beli makan di dalam terminal, biasanya lebih mahal.”

Saya jalan cukup jauh meninggalkan terminal, setiap ada warung makan dia nggak berhenti. Ternyata dia mau menunjukkan jalan menuju kos nya. Akhirnya ketemu warung Padang, saya makan sendirian, dia hanya minum jeruk hangat dan merokok.

Selesai makan dia ngasih permen, tahu kalo saya butuh permen setelah makan. Saat mau bayar dia bilang Pake uang ini saja, sekalian mecahin uang nih.”

Ada bis Kramat Jati tuh,” Ujarku.

Ya udah kamu disini dulu.”

Lalu dia keluar hunting bis. Beberapa menit kemudian dia balik ke Warung Padang. Tapi tidak bawa tiket, karena bis nya sudah penuh. Lalu kita keluar untuk mencari bis lain, dan ternyata banyak juga orang-orang yang ingin mudik tapi belum dapat bis.

Akhirnya ada bis AC jurusan Semarang – Solo. Prof mendekati bis itu, saya menyusulnya. Prof menawar harga tiketnya, harga semula Rp. 140.000,- ditawar jadi Rp. 130.000,-. Prof berjalan mencariku, clingak-clinguk, padahal dari tadi saya di belakangnya hihihi…Gimana?” Tanyanya meminta persetujuanku. Saya menyetujuinya. Kita pun naik, Prof mempersilakan saya duduk, lalu dia duduk disampingku, dia bayar dua tiket sekaligus. Pertama, dia tolak uang Rp. 150.000,- yang kukasih, saya paksa dan akhirnya mau juga, tapi dia bilang Seratus ribu saja.”

Nggak, ambil semua, sekalian bayar makan,” Ujarku sedikit memaksa

Udah lah yang lima puluh ribu pegang aja buat ongkos ke Pati.”

Saya terharu biru dengan pernyataan itu, seolah-olah menemukan keluarga baru.

Min, sorry saya tidur dulu, capek nih.”

OK

Saya termenung lama, benakku meronta-ronta ingin bicara.”Ya Allah, salahkah saya, bila hari ini kuterima ajakannya untuk pulang bareng, setelah beberapa kali kutolak tawarannya. Ya Allah, salahkan saya jika kini berada disampingnya.” Sebersit rasa simpati yang dulu pernah tumbuh, kini bersemi kembali setelah tiga tahun lamanya kami tidak bertemu lagi.

Sudah pukul 23.30 WIB, tapi tidak ada tanda-tanda bis melaju. Kucoba tidur tapi susah sekali, karena televisi masih nyala. Tepat pukul 24.00 WIB bis berangkat, tapi saya masih belum bisa tidur, ditambah bunyi orang mabuk darat dibangku depanku, semakin membuat mataku sulit dipejamkan. Bau muntahannya menusuk-nusuk hidungku. Akhirnya saya terlelap karena mata ini terasa berat. Pukul 04.00 WIB saya terbangun karena bis berhenti di Subang. Saya turun cari toilet, sekalian ambil air wudhu. Sayang belum saatnya sholat subuh, saya duduk menunggu adzan. Samar-samar terdengar adzan subuh berkumandang, saya sholat sendirian, saya pikir penumpang lain juga demikian, tapi ternyata hanya saya sendiri. Prof telepon, karena bis akan segera berangkat, tinggal saya sendiri yang masih diluar. Untung belum ketinggalan bis. Sopirnya masih mau nunggu. Setelah masuk bis, berpasang-pasang mata menelanjangi saya.

Sampai di Semarang pukul 02.00 WIB, saya titipkan duabuku Jilbab Traveler pada Prof untuk diberikan pada dua orang pemesan yang ada di Semarang. Lalu saya naik bis dari Mangkang menuju terminal Terboyo. Sampai Terboyo saya ingin naik bis jurusan Surabaya, biasanya lebih cepat sampai Pati. Tapi entah kenapa, kakiku melangkah menuju bis lain sehingga waktunya lebih lama. Apalagi saya di turunkan di terminal Kudus dan masih menunggu bis menuju Pati. Andaikan HP ku nggak lowbat, pastilah saya bisa minta tolong Bapakku untuk menjemput di terminal Kudus. Biasanya Bapakku ada di Kudus sore hari. Malang nasibku, HP mati dan nggak hafal nomor HP Bapakku, yang ada cuman bengong menunggu bis ke Pati.

***

Dan Semuanya Kelabu

Sampai di Pati hari Kamis pukul 17.30 WIB, melewati TPS itu aku ngilu. Mereka sudah mulai menghitung suara. Perjuanganku agar bisa nyontreng ternyata sia-sia. Saya hanya bisa mendengarkan cerita orang-orang kampung yang merasa kesulitan nyontreng. Sebagian dari mereka ada yang nyontreng angka partai bukan angka disebelah nama caleg. Ada juga yang menghabiskan waktu satu jam di dalam bilik karena semua nama caleg dibaca dari awal sampai akhir hihihi…, dia mencari-cari nama caleg yang akan dipilih. Ada  lagi cerita dari Evi, katanya ada yang mencari nama caleg DPRD di kartu caleg DPR, jelas saja nggak nemu namanya hehehe… Dasar orang kampung! nyontreng aja pada bingung.

Dari hari Jum’at saya sudah mengajak Ibu untuk menjenguk Pak Dhe (Kakak kandung Bapakku). Tapi Bapak Ibuku bilang besok sore saja, kita beli buah dulu buat oleh-oleh. Sabtu Pagi sampai menjelang maghrib saya ikutan jualan kelapa muda. Dari pelanggan satu ke pelanggan lain, Bapakku menyetor degan (kelapa muda). Sampai tempat terakhir, Bapakku berhenti, saya tanya pada ibuku Itu rumah siapa Bu.” Tanyaku pakai Bahasa Jawa tentunya. Rumah rentenir jawabnya. Ctaaaar….tiba-tiba saya merasa ada petir menyambar. Tapi Bu, makan riba itu dosa, baik yang meminjam ataupun peminjam sama-sama berdosa.” Kataku hati-hati. “Lha terus gimana? Namanya juga terpaksa.” Tegasnya. Dan saya pun terdiam seribu bahasa.

Sampai di rumah saya langsung mandi, samar-samar saya dengar percakapan Bapak dengan orang yang menelepon, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa penelepon itu adalah kakak ipar Bapakku. Lalu Ibuku mulai panik dan memanggil manggil namaku agar segera keluar dari kamar mandi.

Min cepat, Dhe Ngar sudah kritis.” Setelah memanggilku Ibu dan Bapak segera ke rumah Dhe Ngar.

Sehabis sholat saya berdo’a Ya Allah berilah yang terbaik untuk Dhe Ngar.” Selesai sholat saya begitu tenang, sama sekali tidak buru-buru menuju rumah Dhe Ngar, bahkan saya makan dulu. Lalu tetanggaku datang, dan menyuruhku segera menyusul. Saya segera berangkat. Sampai di rumah Dhe Ngar, semuanya bisu, saya lihat tubuhnya yang kurus kering itu terbujur kaku. Mulutnya terbuka seolah-olah melafazhkan kalimat La illa ha illallah, Allah, Allah, Allah… tapi tanpa terdengar suaranya. Matanya terkatup satu, yang satu masih sedikit terbuka, dan keluar air mata . Tangannya dingin dan tidak mengeluarkan keringat lagi. Kanker hati (hepatoma) sekaligus diabetes telah membuatnya lama menderita. Dokter pun sudah memvonis bahwa penyakit itu tidak ada obatnya, mereka hanya bisa memberikan obat penahan rasa sakit. Mendengar kabar itu, tentu kaki Bu Dhe ku lemas seketika, apalagi dia juga mengidap asam urat dan gejala stroke. Tapi dia cukup sabar dan kuat merawat Dhe Ngar. Dokter juga menyarankan agar Dhe Ngar dibawa pulang saja. Padahal di rumah justru akan menambah beban pikiran anaknya yang sebelumnya sudah stress dan mengalami gangguan kejiwaan.

Setelah Isya’, Dhe Ngar menghembuskan nafas terakhir dengan posisi mulut yang masih menganga. Jerit tangis mengiris, perih, kucoba menahan air mataku, tapi tetap saja tumpah. Adik Dhe Ngar sangat terpukul, disampingnya saya mencoba menenangkan. Adik Dhe Ngar sedih karena selain kakaknya meninggal, anaknya juga sakit.

Dengan segera mayatnya di sucikan, dan dikuburkan esok hari sesuai wasiatnya agar dikuburkan dekat dengan kedua orangtuanya yang beda desa, jadi harus mengurus perizinan dulu. Sekaligus menunggu anaknya yang kerja & sekolah di Blora. Pukul 23.00 WIB, anaknya datang, lalu semuanya tersedu-sedu pilu, dan semuanya kelabu.

Minggu pagi saya takziah, bantu merangkai bunga.  Mayatnya terbujur kaku di atas meja.   Disucikan lagi lalu disholati.  Lalu di bawa ke pemakaman.  Saat perpisahan itu, semua wajah mendung.  Air mata banjir tak terbendung.  Suara tangis menggantung.

Kopaja Anti Rokok

Pic. by Fitri

Pic. by Fitri

Kawasan yang seharusnya bebas rokok, masih saja ditemukan orang yang sedang merokok. Upaya perlindungan masyarakat melalui pelaksanaan wilayah tanpa rokok seolah sia-sia belaka. Karena perokok yang bisa membaca larangan merokok, sedang tidak menggunakan akal sehatnya. Begitu pula saat membaca peringatan kesehatan di bungkus rokok, mereka (perokok) sedang tidak mengindahkannya. Apakah cara itu cukup efektif? Tentu jawabannya tidak. Karena jeratan adiksi rokok lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan menahan diri . Hilanglah kesadaran menyayangi diri sendiri. Sepertinya perokok lebih sayang petani tembakau, pengusaha rokok ketimbang dirinya sendiri.

Haruskah aparat kepolisian digerakkan untuk melakukan pengawasan di kawasan tanpa rokok. Saya pikir tulisan besar-besar di spanduk itu bisa menjadi polisi tidur mengganti aparat kepolisian. Lagi-lagi pikiran itu terpatahkan. Benda mati tidak ditakuti. Saya masih menemukan perokok di kawasan yang seharusnya bebas rokok.

Dalam perjalanan pulang dari Pasar Festival, mata saya menemukan sticker tulisan anti rokok di bis kopaja.  Sticker itu bertuliskan “Asap rokokmu membunuh orang di sekitarmu.” Satu trobosan agar penumpang tidak merokok sembarangan. Mengingat para penumpang lainnya akan terampas haknya untuk menghidup udara segar. Seharusnya tak perlu ada tulisan, himbauan dan larangan. Perokok hendaknya tau diri, sadar diri dan bertanggung jawab atas setiap asap rokok yang ia keluarkan dan dihirup oleh orang-orang sekitarnya.

Dalam perda DKI Jakarta No. 75 tentang kawasan dilarang merokok pasal 1 poin 23 - 31 telah ditentukan kawasan bebas rokok. Saya soroti poin 27 yakni angkutan umum.

Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang dapat berupa kendaraan darat, air, dan udara termasuk di dalamnya taksi, bus umum, busway, mikrolet, angkutan kota, Kopaja, Kancil, dan sejenisnya.

Sumber :

http://beritalingkungan.blogspot.com/2006/02/perda-dki-jakarta-no-75-thn-2005-ttg.html

Dalam hal ini timbul pro dan kontra.  Saya pernah dapat email dari perokok yang menginginkan persamaan perlakuan.  Sempat debat tentang bahaya asap rokok dengan asap knalpot.  Jika asap rokok dilarang berhembus di Kopaja, mengapa asap knalpot Kopaja dibiarkan saja mengotori udara? Dua hal yang berbeda tapi ingin disamakan. Berikut petikan emailnya :

Asap rokok memang berbahaya, tp lebih bahaya mana dibandingkan dgn asap knalpot kopaja, metromini, motor, mobil dan asap dr industri?
Jika asap rokok merupakan racun hgg pabrik rokok tempat kami mencari nafkah dilarang & ditutup, mengapa kopaja, truk, sedan, motor dan pabrik, yg notabene lbh beracun tidak ikut ditutup? Tentunya kami, para pekerja ‘dosa’ di bdng rokok, iri dan menginginkan persamaan perlakuan.

Asap rokok dan asap knalpot memiliki dua rantai yang berbeda.  Asap rokok dengan sengaja ditimbulkan oleh manusia, sedangkan knalpot lebih karena jenis kendaraan kita memang belum ramah lingkungan.  Kalaupun harus mengubah bahan bakar juga tak mudah.  Lagian sepeda listrik, bajaj dengan bahan bakar gas sudah beredar.  Dan harganya tentu lebih mahal.  Sedangkan merokok menurutku lebih mudah dihentikan asal perkokok mengerti cara menyayangi diri sendiri.  Kalaupun tidak bisa dihentikan, minimal dikurangi. Jangan sampai generasi mendatang yang belum teradiksi menambah jumlah adiksi rokok di Indonesia.

Saya sangat setuju dengan quote “Silakan merokok asal asapnya ditelan”

“Ya nggak bisa,” komentar perokok

“Kalau tidak bisa, ya jangan merokok!”

“Lebih baik tidak makan dari pada tidak merokok,” pernyataan yang sungguh-sungguh berlebihan

Bagaimana mungkin hidup tanpa karbohidrat, protein, vitamin?

Bagaimana mungkin hidup mengandalkan racun?

Mari sukseskan kawasan bebas rokok. Agar bisa kita bisa menghirup udara segar dan mengurangi efek global warming.  Merokoklah yang bertanggung jawab. Jangan merokok di kawasan bebas rokok.

Apartemen Ala Belanda

Sumber : http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/resources/

Sumber : http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/resources/

Kompetiblog 2010 mengingatkan saya pada novel yang ditulis oleh empat orang (Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi dan Rizki Pandu Permana).  Awal kenal novel ini karena rekomendasi teman klub buku.

“Kamu kan sudah jauh-jauh maen kesini, mau pinjem buku apa?” Kata Uni Widya

“Buku bagus yang bisa buat saya ketawa, ada?”

“Novel ini nih, lucu lho.  Cerita tentang backpacker.” Uni Widya mengambil novel Negeri Van Oranje.

“Wah cucok nih.  Saya kan suka jalan-jalan.”

Kurang lebih petikan dialognya seperti itu.  Saya bawa tiga buku dari rumah Uni.  Libri di Luca, 5 cm dan Negeri Van Oranje.  Saat baca novel NVO itu saya bisa tertawa sampai keluar air mata.  Dan sempat melepaskan mimpi terbang ke Negeri Belanda.

Satu hal yang menarik perhatian saya saat baca novel “Negeri Van Oranje” adalah apartemen Geri (salah satu personil Aagaban selain Wicak, Daus, Banjar dan Lintang).  Dalam novel itu digambarkan apartemen Geri cukup mewah dengan view yang indah.  Geri bisa tahu siapa tamu yang akan datang melalui kamera pengintai di kamarnya. Dan bisa meminimalisir tindakan kriminal. Menurutku itu salah satu inovasi Belanda yang sederhana tapi berguna.

Geri bisa memilih tamu yang diinginkan dengan melihat rekaman CCTV (televisi sirkuit tertutup monitoring) dari kamarnya.  Kebanyakan apartemen memasang kamera pengintai (CCTV) di lift dan lobi saja.  Sehingga tindakan kriminal bisa lolos dari pengintaian.  Seperti pembunuhan di Apartemen Mediterania, pencurian atau perampokan yang kerap terjadi di apartemen Indonesia.

Sayangnya tamu yang tidak diinginkan hadir, tetap bisa masuk tanpa sepengetahuan Geri. Dimulai dengan adegan Lintang mengantarkan pisang goreng kesukaan Geri.  Lintang sengaja tidak menekan tombol kamar Geri di lobi apartemen. Rencana memberi surprise tapi justru Lintang yang dapat surprise.   Satu rahasia besar telah terungkap.  Geri, lelaki yang ia cintai ternyata homo.

Deskripsi tentang apartemen Geri sungguh memikat pembaca untuk datang ke Belanda.  Sayangnya harga sewanya cukup mahal.  Kocek seorang Daus, Banjar atau Wicak saja tidak cukup untuk membayarnya.

Cerita novelnya segitu dulu ya.  Mari kita lanjut dengan inovasi Belanda lainnya. Bulan Desember 2010, Belanda akan membangun apartemen terapung yang disebut dengan Citadel design by waterstudio.  Terbayang kan kita bisa langsung nyemplung kalau mau mandi :D.  Air digunakan untuk mengurangi panas di dalam apartemen (passive cooling).

Sumber otakku.com

Sumber otakku.com

Kita masih ingat dengan hukum archimedes kan? Tentunya Citadel ini tidak lepas dari hukum tersebut.  Menurut Archimedes gaya apung dipengaruhi oleh volume benda yang tercelup.  Semakin besar volume apartemen, semakin besar pula gaya apungnya. Selain itu dipengaruhi oleh kerapatan (masa jenis) cairan.  Semakin besar masa jenis cairan, semakin besar pula gaya apungnya.  Jadi apartemennya harus memiliki volume besar dengan didukung masa jenis air yang besar juga.  Sehingga apartemen Citadel berhasil dibangun dan tidak ada kekhawatiran akan tenggelam.

Waterstudio membedakan 4 konsep dalam berurusan dengan air :

  1. Lifted : seperti rumah panggung (mengangkat)
  2. Waterproof : tahan air, sehingga air tidak merembes masuk ke dalam apartemen
  3. Sealed : Tempat tinggal terpencil dan kedap air
  4. Floating : familiar dengan rumah mengambang

Berdasarkan keempat konsep itulah, Citadel akan dibangun.  Indonesia dengan wilayah perairan 7.9 juta km2, hendaknya bisa mengikuti konsep tersebut.  Dengan pemanfa’atan air sebagai lahan bangunan bisa mengurangi kepadatan rumah di daratan.  Sehingga tata kota lebih baik dan lingkungan kumuh tak lagi kita temukan di Indonesia.

Powered by WordPress | Find Cheap Phones at Bestincellphones.com. | Find the Best CD Rates online, Free Cell Phone Deals and Fat burning Furnace Review