Setelah semedi beberapa hari, akhirnya saya memutuskan ikut kontes blog yang diadakan teman sendiri (anazkia) dengan sponsor denaihati. Sekedar meramaikan sayembara, kali aja rezeki. Amin.
Lalui Jalan Biru
Jelang pemilu 2009, saya meyakinkan diri untuk pulang kampung dengan membawa tiga misi. Pertama saya harus nyontreng, kedua sekalian jualan buku dan yang terakhir saya akan jenguk saudaraku yang sedang sakit. Cabut dari kantor pukul tujuh, persiapan selama setengah jam. Awalnya saya masih ragu untuk pulang. Tapi temanku menawarkan diri untuk pulang bareng. Saya belum memutuskan untuk pulang bareng dia, SMS nya juga belum saya balas. Sampai dia kirim SMS lagi “Min, jd pulang brng gak? Mumpung sy jg br pulang dr pabrik nih. Klo gak bls tak anggap gak jadi ya. Thx.”
Lama kubaca SMS darinya, saya masih ragu, karena harus ke terminal Pulogadung, sementara ada dua terminal yang lebih dekat dari kosku yakni Lebak Bulus dan Kampung Rambutan. Jika saya berangkat dari Lebak Bulus berarti pulang sendirian, sehingga mengundang kekhawatiran orang tua, jika harus ke Pulogadung berarti makan waktu. Meskipun begitu saya balas SMS nya “Iya, sy br siap2, klo mo ke Pulogadung dr Lbk Bulus naik bis no brp? Dia juga nggak tahu dan menyuruhku naik bis jurusan Pulogadung (Ya Iyalah).
Dengan modal nekat, saya berangkat dari kos pukul 19.30 WIB. Jalan kaki sampai pertigaan arah Kostrad, sampai ketemu angkutan D01. Turun di Pasar Jum’at, cari bis jurusan Pulogadung. Beberapa orang yang saya temui berpesan “Hati-hati kalo ke terminal Pulogadung, tas nya ditaruh di depan.” Ada lagi yang melarang saya ke Pulogadung dan menyarankan agar saya ke Kampung Rambutan saja. Dengan tegas saya jawab “Saya sudah janjian sama teman ketemu di Pulogadung.”
Sampai di Pulogadung pukul 22.15 WIB, janjian ketemu di Musholla. Sembari menunggunya, saya ngobrol dengan seorang Bapak. Selang beberapa menit, saya bertemu dengan temanku. Saya biasa memanggilnya ‘Prof’, karena dia menjabat sebagai ketua salah satu komunitas di kampus.
“Sekarang kamu kurus ya.” Komentarnya setelah dia jawab salam yang saya ucapkan.
“Masak sih, kata temanku saya kelihatan gemuk kok.” Maksa banget jawabku.
“Dah makan pa belum?”
“Kau kira aku sempat makan tadi? Kalo kamu dah makan?”
“Kalau aku sih santai, ya udah makan dulu aja.”
“Ntar kelamaan lagi, beli ganjal perut aja ya.”
Prof bergegas keluar terminal, saya ngintil di belakang, sesekali dia menoleh, mungkin takut saya hilang hehe…
”Tasnya berat ya, sini tak bawain,” dua kali dia menawarkan diri
“Nggak berat kok,” tolakku, mana tega saya lihat dia bawa tas dua.
“Triknya, kalo ke Pulogadung tuh santai aja, jangan bingung.”
“Hmmm…..gitu ya, kita mau kemana ya?”
“Mau beli makan kan, jangan beli makan di dalam terminal, biasanya lebih mahal.”
Saya jalan cukup jauh meninggalkan terminal, setiap ada warung makan dia nggak berhenti. Ternyata dia mau menunjukkan jalan menuju kos nya. Akhirnya ketemu warung Padang, saya makan sendirian, dia hanya minum jeruk hangat dan merokok.
Selesai makan dia ngasih permen, tahu kalo saya butuh permen setelah makan. Saat mau bayar dia bilang “Pake uang ini saja, sekalian mecahin uang nih.”
“Ada bis Kramat Jati tuh,” Ujarku.
“Ya udah kamu disini dulu.”
Lalu dia keluar hunting bis. Beberapa menit kemudian dia balik ke Warung Padang. Tapi tidak bawa tiket, karena bis nya sudah penuh. Lalu kita keluar untuk mencari bis lain, dan ternyata banyak juga orang-orang yang ingin mudik tapi belum dapat bis.
Akhirnya ada bis AC jurusan Semarang – Solo. Prof mendekati bis itu, saya menyusulnya. Prof menawar harga tiketnya, harga semula Rp. 140.000,- ditawar jadi Rp. 130.000,-. Prof berjalan mencariku, clingak-clinguk, padahal dari tadi saya di belakangnya hihihi…”Gimana?” Tanyanya meminta persetujuanku. Saya menyetujuinya. Kita pun naik, Prof mempersilakan saya duduk, lalu dia duduk disampingku, dia bayar dua tiket sekaligus. Pertama, dia tolak uang Rp. 150.000,- yang kukasih, saya paksa dan akhirnya mau juga, tapi dia bilang “Seratus ribu saja.”
“Nggak, ambil semua, sekalian bayar makan,” Ujarku sedikit memaksa
“Udah lah yang lima puluh ribu pegang aja buat ongkos ke Pati.”
Saya terharu biru dengan pernyataan itu, seolah-olah menemukan keluarga baru.
“Min, sorry saya tidur dulu, capek nih.”
“OK”
Saya termenung lama, benakku meronta-ronta ingin bicara.”Ya Allah, salahkah saya, bila hari ini kuterima ajakannya untuk pulang bareng, setelah beberapa kali kutolak tawarannya. Ya Allah, salahkan saya jika kini berada disampingnya.” Sebersit rasa simpati yang dulu pernah tumbuh, kini bersemi kembali setelah tiga tahun lamanya kami tidak bertemu lagi.
Sudah pukul 23.30 WIB, tapi tidak ada tanda-tanda bis melaju. Kucoba tidur tapi susah sekali, karena televisi masih nyala. Tepat pukul 24.00 WIB bis berangkat, tapi saya masih belum bisa tidur, ditambah bunyi orang mabuk darat dibangku depanku, semakin membuat mataku sulit dipejamkan. Bau muntahannya menusuk-nusuk hidungku. Akhirnya saya terlelap karena mata ini terasa berat. Pukul 04.00 WIB saya terbangun karena bis berhenti di Subang. Saya turun cari toilet, sekalian ambil air wudhu. Sayang belum saatnya sholat subuh, saya duduk menunggu adzan. Samar-samar terdengar adzan subuh berkumandang, saya sholat sendirian, saya pikir penumpang lain juga demikian, tapi ternyata hanya saya sendiri. Prof telepon, karena bis akan segera berangkat, tinggal saya sendiri yang masih diluar. Untung belum ketinggalan bis. Sopirnya masih mau nunggu. Setelah masuk bis, berpasang-pasang mata menelanjangi saya.
Sampai di Semarang pukul 02.00 WIB, saya titipkan duabuku Jilbab Traveler pada Prof untuk diberikan pada dua orang pemesan yang ada di Semarang. Lalu saya naik bis dari Mangkang menuju terminal Terboyo. Sampai Terboyo saya ingin naik bis jurusan Surabaya, biasanya lebih cepat sampai Pati. Tapi entah kenapa, kakiku melangkah menuju bis lain sehingga waktunya lebih lama. Apalagi saya di turunkan di terminal Kudus dan masih menunggu bis menuju Pati. Andaikan HP ku nggak lowbat, pastilah saya bisa minta tolong Bapakku untuk menjemput di terminal Kudus. Biasanya Bapakku ada di Kudus sore hari. Malang nasibku, HP mati dan nggak hafal nomor HP Bapakku, yang ada cuman bengong menunggu bis ke Pati.
***
Dan Semuanya Kelabu
Sampai di Pati hari Kamis pukul 17.30 WIB, melewati TPS itu aku ngilu. Mereka sudah mulai menghitung suara. Perjuanganku agar bisa nyontreng ternyata sia-sia. Saya hanya bisa mendengarkan cerita orang-orang kampung yang merasa kesulitan nyontreng. Sebagian dari mereka ada yang nyontreng angka partai bukan angka disebelah nama caleg. Ada juga yang menghabiskan waktu satu jam di dalam bilik karena semua nama caleg dibaca dari awal sampai akhir hihihi…, dia mencari-cari nama caleg yang akan dipilih. Ada lagi cerita dari Evi, katanya ada yang mencari nama caleg DPRD di kartu caleg DPR, jelas saja nggak nemu namanya hehehe… Dasar orang kampung! nyontreng aja pada bingung.
Dari hari Jum’at saya sudah mengajak Ibu untuk menjenguk Pak Dhe (Kakak kandung Bapakku). Tapi Bapak Ibuku bilang besok sore saja, kita beli buah dulu buat oleh-oleh. Sabtu Pagi sampai menjelang maghrib saya ikutan jualan kelapa muda. Dari pelanggan satu ke pelanggan lain, Bapakku menyetor degan (kelapa muda). Sampai tempat terakhir, Bapakku berhenti, saya tanya pada ibuku “Itu rumah siapa Bu.” Tanyaku pakai Bahasa Jawa tentunya. “Rumah rentenir” jawabnya. Ctaaaar….tiba-tiba saya merasa ada petir menyambar. “Tapi Bu, makan riba itu dosa, baik yang meminjam ataupun peminjam sama-sama berdosa.” Kataku hati-hati. “Lha terus gimana? Namanya juga terpaksa.” Tegasnya. Dan saya pun terdiam seribu bahasa.
Sampai di rumah saya langsung mandi, samar-samar saya dengar percakapan Bapak dengan orang yang menelepon, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa penelepon itu adalah kakak ipar Bapakku. Lalu Ibuku mulai panik dan memanggil manggil namaku agar segera keluar dari kamar mandi.
“Min cepat, Dhe Ngar sudah kritis.” Setelah memanggilku Ibu dan Bapak segera ke rumah Dhe Ngar.
Sehabis sholat saya berdo’a “Ya Allah berilah yang terbaik untuk Dhe Ngar.” Selesai sholat saya begitu tenang, sama sekali tidak buru-buru menuju rumah Dhe Ngar, bahkan saya makan dulu. Lalu tetanggaku datang, dan menyuruhku segera menyusul. Saya segera berangkat. Sampai di rumah Dhe Ngar, semuanya bisu, saya lihat tubuhnya yang kurus kering itu terbujur kaku. Mulutnya terbuka seolah-olah melafazhkan kalimat La illa ha illallah, Allah, Allah, Allah… tapi tanpa terdengar suaranya. Matanya terkatup satu, yang satu masih sedikit terbuka, dan keluar air mata . Tangannya dingin dan tidak mengeluarkan keringat lagi. Kanker hati (hepatoma) sekaligus diabetes telah membuatnya lama menderita. Dokter pun sudah memvonis bahwa penyakit itu tidak ada obatnya, mereka hanya bisa memberikan obat penahan rasa sakit. Mendengar kabar itu, tentu kaki Bu Dhe ku lemas seketika, apalagi dia juga mengidap asam urat dan gejala stroke. Tapi dia cukup sabar dan kuat merawat Dhe Ngar. Dokter juga menyarankan agar Dhe Ngar dibawa pulang saja. Padahal di rumah justru akan menambah beban pikiran anaknya yang sebelumnya sudah stress dan mengalami gangguan kejiwaan.
Setelah Isya’, Dhe Ngar menghembuskan nafas terakhir dengan posisi mulut yang masih menganga. Jerit tangis mengiris, perih, kucoba menahan air mataku, tapi tetap saja tumpah. Adik Dhe Ngar sangat terpukul, disampingnya saya mencoba menenangkan. Adik Dhe Ngar sedih karena selain kakaknya meninggal, anaknya juga sakit.
Dengan segera mayatnya di sucikan, dan dikuburkan esok hari sesuai wasiatnya agar dikuburkan dekat dengan kedua orangtuanya yang beda desa, jadi harus mengurus perizinan dulu. Sekaligus menunggu anaknya yang kerja & sekolah di Blora. Pukul 23.00 WIB, anaknya datang, lalu semuanya tersedu-sedu pilu, dan semuanya kelabu.
Minggu pagi saya takziah, bantu merangkai bunga. Mayatnya terbujur kaku di atas meja. Disucikan lagi lalu disholati. Lalu di bawa ke pemakaman. Saat perpisahan itu, semua wajah mendung. Air mata banjir tak terbendung. Suara tangis menggantung.