Rel Kereta Cinta

Dalam ruangan UGD RS FW seorang pasien tergeletak tak sadarkan diri, orang biasa memanggilnya Nanang. Luka merata disekujur tubuhnya, kedua kakinya bersimbah darah , tulang lengan kanannya retak. Begitu pula dengan kepalanya, terkena benturan. Setiap kali bernafas keluar darah. Mia tak tahan melihat kondisinya, tapi dia harus menemani kekasihnya itu. Karena dialah penyebab kecelakaan itu.

Mia menyesal kenapa tadi sore mengajak Nanang berduaan di dekat rel kereta api. Nanang berjalan mendekati rel, suara teriakan orang-orang yang memperingatkan ada Kereta Api lewat tak terdengar olehnya, sampai akhirnya tubuhnya dihantam kereta dan terpelanting sejauh dua meter dari badan kereta. Mia melihat orang-orang berhamburan menolong Nanang, mereka membawa Nanang ke RS terdekat. Mia belum berbuat apa-apa, tubuhnya gemetaran. Mia merasa dialah penyebab orang yang dicintai menderita. Tahu gini Mia nggak ngajak Nanang jalan sore-sore dan menikmati senja di rel kereta.

Sekarang Mia hanya bisa menangis disamping Nanang, matanya sembab, hidung bangirnya memerah. “Ah..rel kereta cinta telah membuat kita bersuka cita sekaligus merana.” Bisiknya dalam hati. Atas izin Tuhan, aku selamat, semoga Nanang pun selamat. Memang rel kereta itu memiliki magnet bagi siapapun untuk sekedar duduk melepas kantuk, karena tempatnya sejuk. Di dekat rel ada pohon-pohon rindang yang enak dipandang. Pantaslah menjadi tempat favorit kita untuk bercengkrama.

“Maaf, anda saudaranya Mas Nanang?”

“Iya benar, kenapa?”

“Pasien ini butuh perawatan ekstra, peralatan kami kurang memadai, sebaiknya dipindah ke RS lain setelah pasien siuman.”

“Baik Pak, kira-kira boleh pindah malam ini juga atau besok pagi.”

“Secepatnya. Malam ini juga boleh, asal pasien sudah siuman.”

Dalam remang Nanang memandang sekelilingnya. Pandangannya berhenti saat melihat orang disampingnya. Sakit yang luar biasa mulai ia rasakan disekujur tubuhnya. Perih, nyeri disana sini. Mia mulai mengusap air matanya, ada rona bahagia di wajahnya. Nanang sudah siuman.

“Kita dimana?” tanyanya terbata-bata.

“Di Rumah Sakit Cinta, maafkan aku telah membuatmu menderita.”

Dokter masuk untuk memerikasanya lagi. Saluran pernafasannya mulai membaik. Pasien boleh pindah ke RS lain malam ini juga. Tapi sebelumnya Mia harus menyelesaikan pembayaran di bagian administrasi. Mia baru sadar, dia harus keluarkan uang saat itu juga. Sebagai kasir, gajinya hanya cukup untuk hidup. Tak pernah ada sisa setiap bulannya. Rasa pening berubah jadi pusing. Mia berpikir keras agar bisa membayar biaya perawatan Nanang. Ia putuskan untuk mengabari keluarganya bahwa Nanang kecelakaan. Saudaranya pun dating dan melunasi semua biaya perawatannya.

Tepat jam delapan malam, Nanang dipindah ke RS HK. Bukannya sewa ambulan tapi naik taxi. Kaki Nanang terpaksa ditekuk, padahal belum boleh ditekuk. Harus dalam posisi lurus terus. Sampai di RS HK disambut dua orang perawat. Mia memilih ruangan kelas menengah, biaya sewanya lebih ringan dengan kualitas perawatan cukup baik.

Dua malam berturut-turut Mia menemani kekasihnya. Tak seorangpun keluarga Nanang yang menjenguknya. Memang ini salahku, tapi kemanakah rasa cinta sesama? Nanang masih diam, menutup matanya. Dalam hening, Mia mengambil secarik kertas dan menggoreskan penanya.

Aku sendiri

Hati nurani telah pergi

Tinggallah sepi yang menemani

Suara hati menangis pilu

Menjemput rindu bersamaMu

Aku malu dengan hijabku

Aku malu padaMu

Engkau anugerahkan cinta yang indah

Tapi kukotori dengan salah dan darah

Maafkan aku ya Allah

Cukup bagiku teguran ini, ya Rahman

Mia terlelap dalam duduknya, hingga fajar tiba. Ia bangun dan berdo’a semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kekasihnya.

“Dasar cewek gak tau malu!” suara orang yang besuk begitu menusuk.

“Maksud ibu?” Mia tahu siapa orang di hadapannya, dia berusaha sopan dan menahan emosinya.

“Nanang anak yang baik, kalo bukan karena bujuk rayumu, dia tidak akan berbuat salah.” Tusukan kedua menghujam dadanya.

“Maafkan Mia, Bu.”

“Jangan marahin dia, Bu.” Nanang menengahi.

“Kok kamu bela dia, bukannya bela ibu.”

“Ini semua karena takdirnya, karena cintaNYA pada Nanang, jangan salahkan Mia, aku baik-baik saja.”

“Apa?”

“Kondisi babak belur gitu, kau bilang baik-baik saja!”

“Percayalah Bu, kondisiku mulai membaik.” Nanang sedikit berbohong agar Ibu nya tenang.

Dokter yang bertugas memeriksa kondisi Nanang lagi. Nanang harus operasi hari ini juga sebelum kondisinya tambah buruk. Emosi Bu Tatik semakin memuncak, ingin ia remukkan tubuh Mia dengan kedua tangannya. Tapi saying, ia pun tak berdaya melakukannya. Apalagi melihat Mia terisak, hati nuraninya berbicara bahwa ia tidak tega.

Seminggu setelah operasi, wajah Nanang mulai cerah. Tapi tubuhnya masih lemah. Kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Dia belum bisa berjalan dengan normal, masih butuh krek. Setelah satu tahun, kakinya baru bisa normal kembali. Nanang tak bisa lagi mengantar Mia jalan-jalan, tak bisa menemani kemanapun Mia ingin pergi. Tak bisa lagi!

Mia sudah mulai bekerja seperti biasa. Sedihnya mulai menguap. Dia sudah bisa menerima cobaan ini sebagai rezeki. Bukti cintaNYA pada Mia. Dia ambil hikmah dari semua cobaab yang menimpanya. Dia pasrah, semoga tidak terulang untuk yang kedua kalinya.

Sebulan kemudian Nanang diperbolehkan untuk pulang. Biaya perawatan sebagian ditanggung pihak KA. Keluarganya memutuskan agar dia pulang kampung, mereka berusaha sebisa mungkin agar Nanang berpisah dengan Mia. Lagi-lagi cobaan Tuhan akan kesetiaan cintanya pada Mia teruji. Nanang harus nurut, tak bisa mengelak, demi kebaikannya kelak. Keputusan keluarganya sudah bulat, tak bisa diganggu gugat. Lalu ia tuliskan surat untuk Mia.

Dear honey,

Biarkan aku pergi. Kali ini bukan untuk selamanya, tapi sementara. Demi ketenangan jiwa dan kebaikan kita berdua. Sampai jumpa di pelaminan ya.

Nanang with love.


You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Rel Kereta Cinta”

  1. Bang Aswi says:

    Tinggal dipoles sedikit pasti hasilnya akan lebih maksimal lagi ^_^

  2. minehaway says:

    OK Bang, nti dipoles lagi deh thx

Leave a Reply

Powered by WordPress | Find Cheap Phones at Bestincellphones.com. | Find the Best CD Rates online, Free Cell Phone Deals and Fat burning Furnace Review