Tafsir Musafir
Tafsir Al Qur’an jilid enam bersampul warna ungu menambah sesaknya rak buku Ais. Jika dibuka, ada tulisan di halaman pertama “Solat sulit, sulit hati, suka solat ko buruk hatii.” Kalimatnya pendek tapi sangat mengena. Buka dua lembar lagi ada coretan dari pemiliknya “Sipat seorang manusia yang berteman syetan kikir, bakhil, pelit, tak mau peduli penderitaan orang lain, karena hatinya hati syetan, binatang, untuk menutupi kedok kekafirannya bukan karena Allah SWT.” Ais menarik nafas panjang, setelah membacanya ada banyak pikiran yang berkecamuk di otaknya. Bukan semata-mata karena kalimat itu, Ais membelinya. Naluri kemanusiaannya mengatakan bahwa ia harus menolong musafir yang ngakunya pecinta alam agar bisa kembali ke kampung halaman.
Di depan masjid Hidayah, terlihat pemuda berdiri memegangi tas ranselnya. Ais baru saja turun dari bis. Seharian ia habiskan untuk mencari ilmu kepenulisan. Letih memang, tapi Ais senang memperoleh ilmu baru. Setelah menyeberang jalan, ia disapa seorang pemuda.
“Mbak.”
“Iya,ada apa?”
“Saya bukan bermaksud jualan, tapi saya butuh uang untuk pulang, maukah mbak membeli tafsir Al Qur’an saya.” Pemuda itu mencari-cari buku tafsir Al Qur’an di dalam tasnya.
“Ini mbak, pakaian di tas ini sudah basah semua, tinggal tafsir ini yang bisa saya jual.”
“Memangnya butuh uang transport berapa?”
“Empat puluh ribu.”
“Uang di dompetku tinggal dua puluh ribu, mau?”
“Segitu mah gak nyampe Sumedang, Mbak.”
“Ya udah ikut aku.”
“Namamu siapa, Mbak?”
“Ais, kamu?”
“Gilang.”
Kami berjalan menuju kontrakan. Gilang bercerita panjang lebar. Ia terpisah dari rombongan pecinta alam, lalu dia naik truk hingga sampai di Kebayoran. Teman-temannya tidak ada yang bisa dihubungi. Gilang bingung, karena ia pikir cari orang baik di Jakarta itu susah. Gilang mengaku sebagai anak baik-baik, jebolan pesantren Asy Syifa. Ia begitu meyakinkan, akupun tak meragukan semua ceritanya dan percaya begitu saja.
“Sudah sampai nih.” Aku mempersilahkan Gilang duduk di kursi teras.
“Biar saya duduk disini saja.” Gilang duduk di luar pagar besi.
Aku menaiki anak tangga dan mengambil selembar uang lima puluh ribuan, lalu turun lagi.
“Nih uangnya.”
“Makasih mbak, moga Allah yang membalasnya.”
“Amin.”
Ais membuka lagi tafsir itu. Ia temukan keanehan, ada dua lubang dibagian depan dan belakang. Lubang di halaman depan ada di pojok kanan atas, lubangnya membentuk huruf U. Ada sisa stempel di sisi kanan lubang. Sedangkan lubang di halaman akhir tepatnya di halaman daftar pustaka membentuk lingkaran. Ais curiga tafsir itu barang curian, karena ada stempel nya. Untuk menghilangkan jejak, Gilang menggunting dan menggoreskan pena dalam tafsir itu. Ais menutup tafsir, ia tak mau berburuk sangka yang hanya mengurangi keikhlasan atas kebaikannya hari ini.
Gilang berjalan menelusuri gang-gang Kebayoran. Ia senang bertemu gadis sepolos Ais. Yang mudah sekali ia kibuli hanya dengan seulas wajah memelas. Gilang mencari angkutan menuju Lebak Bulus. Sampai terminal Lebak Bulus, ia beli makan dulu. Lalu cari bis jurusan Sumedang. Agak sepi memang, bisnya masih menunggu penumpang. Satu jam kemudian, bis berangkat. Gilang duduk dibelakang dekat toilet. Setelah makan perutnya sakit, semakin lama tambah melilit. Mungkin sakitnya ini untuk menebus dosanya hari ini. “Aku janji akan kembali menemui Ais dan menjelaskan semuanya. Aku janji akan mengganti tafsir Al Qur’an milik masjid Hidayah. Aku janji ya Allah, tolong sembuhkan rasa sakit ini.” Gilang masih mendekam perutnya, merintih kesakitan.
“Ongkosnya mas?”
“Ini Bang.”
“Lagi sakit perut ya Mas.”
“Iya lagi dapet nih Bang.”
“Hahaha…udah sakit masih bisa bercanda. Bawa obat gak?”
“Nggak Bang.”
“Nih olesin balsem dulu.”
“Makasih Bang.”
Setelah perutnya diolesi balsem, perlahan rasa sakitnya hilang. Gilang menguap, dan akhirnya terlelap. Setelah bangun Gilang kesakitan, tubuhnya terjepit. Ia dengar rintihan dari sana sini. Di usap dahinya yang terasa perih, dilihat tangannya memerah. Berdarah karena pecahan kaca. Ia gerakkan kaki, sulit bergerak, serasa dipasung. Ia lihat sekelilingnya, ngeri. Ada yang sudah mati. Bis yang ditumpanginya terguling masuk jurang. Sopirnya ngantuk, untuk menghindari mobil didepannya, ia banting setir ke kiri dengan kecepatan tinggi. Saat itu penumpang menjerit histeris, kecuali Gilang. Dia masih terlena dalam mimpinya. Gilang ingin kembali menemui Ais. Menjelaskan semua yang terjadi. Bahwa tafsir yang dibelinya adalah barang curian yang harus dikembalikan. Gilang ingin minta maaf sama Ais. Tapi Gilang justru kembali ke asalnya.
Korban kecelakaan mulai di evakuasi keesokan harinya. Berita kecelakaan, mulai ramai dibicarakan di media. Seperti biasa Ais menonton berita pagi. Ia kaget bukan kepalang ketika penyiarnya menyebutkan nama Gilang Maulana sebagai salah satu korban yang meninggal.



Temen2 yg lain jg sempat tertarik dan sebel dg endingnya he…, krn waktu itu lagi buntu bang. Jadilah dlm perjalanan di buat kecelakaan biar bs jadi pelajaran kalau menipu/bohong itu pasti dimurkai Allah.
Ceritanya menarik, tetapi pertanyaan saya cuma satu: mengapa ending cerita begitu mudah dengan cara kecelakaan?