Akhir-akhir ini saya menemui banyak orang yang merasa takut, khawatir ini khawatir itu. Jadi tangan ini gatal untuk posting tulisan yang sudah lama menjadi draft.
# 1 #
Ari melihat seorang Ibu menggendong anaknya berjalan sempoyongan. Seperti sedang kelaparan karena tangannya gemetaran. Ternyata Ibu itu seorang pemulung sampah yang sudah berjalan puluhan kilometer tanpa sesuap nasi. Saat itu Ari sedang keluar kantor, istirahat makan siang. Disakunya ada uang dua puluh ribu rupiah. Ari merasa iba, tapi tak merasakan kondisi pengemis tadi. Ia khawatir uangnya berkurag, sehingga uang itu tetap dikantongi. Karena dua puluh ribu itu untuk beli makan siangnya. Dan ia biarkan orang lain yang menyimpan uang untuk bekal di akhirat.
Hei…Tuhanlah yang ngasih makan kita, bukan Ibu warteg atau boss kita. Mereka hanyalah perantara saja. Anggap sebagai tabungan akhirat. Lepaskan rasa khawatir yang ada. InsyaAllah diganti olehNYA.
# 2 #
Pak Teguh memiliki sebuah mobil keluaran 1992. Ia selalu khawatir BPMnya (Bukti Pemilikan Mobil) hilang lalu disalahgunakan orang lain untuk agunan pinjaman uang. Setiap pergi, tak lupa ia membawa BPM mobil itu. Suatu saat apa yang ditakutkan ternyata terjadi. BPM yang selama ini dibawa kemanapun ia pergi telah raib entah kemana. Seluruh isi lemari telah dibongkar, BPM yang dicari belum menampakkan diri. Dimobil juga tidak ada. Beberapa yang dikunjungi mengaku tidak ada. Beberapa tempat yang telah dikunjungi mengaku tidak ada BPM yang tertinggal.
Kekhawatiran yang berlebihan itulah penyebab terjadinya apa yang kita khawatirkan. Jadi buang jauh-jauh rasa khawatir. Enyahkan kata khawatir dari kamus kehidupan anda. Sehingga tak ada yang musti dikhawatirkan lagi di dunia ini.
# 3 #
Andi bekerja di perusahaan swasta dengan gaji 1.5jt per bulan. Suatu saat saudaranya butuh uang 1.5 juta. Sementara uang itu untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan. Mulai dari makan satu bulan, bayar sewa rumah, komunikasi dan kebutuhan lainnya. Dalam pikiran Andi muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana hidupku satu bulan kedepan? Jika diberikan semua bagaimana nasib saya selanjutnya? Jika diberi sebagian, apakah bisa meringankan beban saudaranya? Disisi lain Andi tahu bahwa menolong wajib hukumnya bagi mereka yang meminta pertolongan. Apa yang Andi lakukan kemudian? Bingung bukan?
Andi coba melepaskan semua beban ketakutan & kekhawatiran. Lalu menjawab pertanyaannya satu persatu. Mengurai benang kusut hingga bisa menemukan benang merahnya. Satu kalimat penguat tindakannya bahwa “kita hanya boleh takut sama Allah”, setelah bibit kalimat itu ia tanam kuat-kuat. Tumbuhlah tanaman dan buah yang bisa dipetik.
Ibu Farida Hanum (penceramah Hikmah Pagi TVRI) pernah menyampaikan perumpamaan yang cukup menggelitik: ada sepasang manusia yang pergi malam mingguan hingga larut malam. Saat pulang melewati Tanah Kusir, mereka melihat bayangan daun pisang bergerak-gerak. Mereka ketakutan, karena berfikir itu hantu. Semakin merasa takut, sehingga lari terbirit-birit. Bahkan terkencing-kencing di jalan karena begitu takutnya. Itu disebabkan oleh kesalahan otak dalam membaca suatu keadaan.
Misalnya kita punya iman 10, lalu kita merasa takut maka iman berkurang 1, merasa lebih takut lagi akan berkurang 1 lagi iman kita. Jika ketakutan itu semakin bertambah, habislah iman kita.
Agar kita bisa melawan kekhawatiran / ketakutan adalah menanamkan rasa takut hanya pada-NYA, melawan dengan tindakan (keberanian yang harus dipaksakan).



Posted in
Tags:
