Author Archive

Sekotak Kerak

Nasi ditanak meninggalkan kerak

Dengan santan ia melunak

Parutan kelapa muda menambah enak

Sisasisa cinta tak selalu nista

Adakalanya berujung bahagia

Sama dengan kerak nasi

Kriuknya membawa kita ke Surakarta

Membuka memori cinta suci

Kupersembahkan sekotak kerak pengganti perak

Ditemani kopi luwak

Dua hati bergejolak

Enak, Kak?

Miss Rima

Kebayoran Lama 22 Jan 2010

Be the first to comment - What do you think?

Posted by minehaway    Date: Thursday, February 11, 2010

Categories: Poetry

Tags:

Mendung di Pulogadung

Pernah saya kirim ke milis, baru sekarang sempat posting. Moga bermanfa’at.

Mengenang hari Jum’at, 4 Desember 2009. Hujan deras mengguyur Jakarta, air di Jalan Arteri menggenang semata kaki. Aku merasa beruntung waktu itu, karena dapat tumpangan mobil sampai UKI. Meski sebelumnya basah kuyup, karena hujan turun saat masih di jalan menuju kantor lama. Rencana awal aku mau ke Rawamangun, karena disana masih ada bis jurusan Pati hingga jam tujuh. Tapi sampai tubuhku menggigil berdiri sejam di depan UKI, tak satupun bis jurusan Rawamangun yang lewat. Kuurungkan naik ojek, karena tidak tahu jalan menuju Rawamangun. Keputusan terakhir aku naik bis jurusan Pulogadung. Agak sedikit nekat memang. Tapi keputusan itu kuanggap terbaik dari pada terlantar di Stasiun Gambir sendirian. Mengingat ada teman yang mungkin bisa diandalkan untuk mencari bis.

Seperti biasa, sampai di Pulogadung aku diserbu Calo.

“Mau kemana, Neng?”

“Ke Mushola, Pak.”

“Ya, maksudnya tujuan kemana?”

“Ya mau ke mushola dulu.”

“Sudah tahu letak mushola dimana?”

Aku mengangguk, sedikit jengkel dan berjalan cepat-cepat. Sampai di Mushola, mandi bebek, ganti kostum mudik lalu sholat.

“Bis jurusan Pati masih ada nggak, Pak?” Sambil ambil tas aku iseng tanya.

”Waduh, jam segini mah sudah habis. Kalau mau naik bis, cari jurusan Pekalongan saja. Sendirian ya?” Lirik jam di HP, sudah jam sembilan.

“Iya Pak, bukannya keberangkatan bis disini sampai jam 23.00.”

“Iya, tapi tidak untuk bis jurusan Pati, jam segini tinggal bis jurusan Pemalang, Pekalongan. Bis Pekalongan paling 45.000. Kalau ditanya calo bilang aja mau naik busway. Bohong untuk kebaikan kan nggak pa pa, Neng.”

“Pamit dulu, Pak. Makasih.”

“Sama-sama, hati-hati di jalan.”

Dari mushola beli pulsa dulu. Voucher pulsa kusimpan dulu, menunggu sampai di tempat yang lebih nyaman. Aku berjalan pasti, seolah-olah sudah terbiasa jalan di terminal Pulogadung. Sampai akhirnya Si Beringas itu datang menghampiri. Melihatku bawa tas besar, dianggap mangsa yang siap disantap.

“Mau kemana, Neng?”

“Rumah teman, Pak.”

“Jurusan mana?” sedikit memaksa dengan mengulang-ulang pertanyaan.

“Pekalongan.” Jawabku asal.

E…e…tas tanganku langsung direbut. Kutahan sekuat tenaga tapi tenaga cewek mungil tentulah kalah dengan tenaga Si Beringas. Kulihat tasku dibawa lari. Ada beberapa orang yang teriak “Hoi, mau dibawa kemana itu?” Mereka hanya berteriak, tak satupun ada yang menolongku. Aku susah payah mengejar si Beringas itu. Beberapa orang di shelter busway memandangi, iba.

Sampailah di loket bis yang dimaksud calo beringas tadi.

“Jurusan mana, Neng?”

“Pekalongan, berapa?”

“Maunya berapa?” Lho kok balik nanya.

“Biasanya lima puluh ribu kan?”

“Ya udah lima puluh ribu.”

Aku ambil uang lima puluh ribu, tapi tiket tidak kunjung diberikan. Sementara orang disebelahku menggertak “Cirebon aja enam puluh ribu, kamu mau ke Pekalongan minta lima puluh ribu!”

Agak keder juga denger gertakan orang itu. “Firasat buruk nih.” Batinku.

Kulihat tiket atas namaku ditulis seratus ribu rupiah. Aku mulai nggak suka dengan perlakuan mereka yang nggak konsisten, memaksa pula. Kuambil lagi uang lima puluh ribu. Eh…dikira aku tangan panjang. Ingin kabur dan mengikhlaskan uang lima puluh ribu, tapi urung. Mengingat uangku pas-pasan. Dengan berat hati kutambahi lima puluh ribu.

Si Beringas teriak “Ayolah Mbak, lama bener sih. Bisnya dah mau berangkat nih.” Akupun segera naik bis setelah menerima tiket. Mengelus dada “Ah…dasar pembohong.” Bisnya tak kunjung berangkat, bener-bener konspirasi tingkat tinggi. Aku mengisi pulsa agar bisa membalas SMS dari Bapak dan teman kantor. Pertanyaan kedua SMSnya sama “Sudah dapat bis?“ Membaca SMS mereka, membuat mendung dikantung mata menggantung di Pulogadung, lalu hujan air mata tak terkendali. “Sudah dapat bis, Pak. Do’akan selamat sampai tujuan.” Lalu aku kirim SMS ke temen yang tinggal tak jauh dari Pulogadung. Terlambat. Harusnya sebelum bertemu Si Beringas itu, aku minta bantuan nyari bis. “Tips survive di Pulogadung tuh pada atau sok tahu.” Kata temanku.

“Jadi kena berapa?”

“Seratus ribu.”

“Sampai Semarang.”

“Pekalongan.”

“Bwahaha…biasanya cuman 40.000 dah dapat bis AC.”

Orang sudah sesenggukan nahan tangis malah di ketawain hiks..

Bis mulai menjauh dari Pulogadung. Tapi berhenti lagi, lama. Lalu penumpang bis RZ disuruh pindah bis. Aku beranjak pindah, tapi salah satu penumpang melarang.

“Jangan mau pindah, Mbak. Udah duduk aja lagi.”

“Ayolah, Bapak Ibu pindah bis. Bis yang ini nggak siap jalan, yang siap jalan bis satunya lagi.”

“Biarin aja. Kalo nggak siap kenapa diisi penumpang? Kalo bis ini nggak jalan, ya minta uang kita kembali. Enak aja main-mainin penumpang.” Celetuk salah satu penumpang yang mulai emosi.

“Ayolah pindah, seperti ini di Pulogadung mah dah biasa.” Kata orang dari bis satunya.

Hah?? Kemungkaran seperti itu dibilang biasa. Astaghfirullah. Sudah tiga orang cewek yang nangis karena teraniaya, salah satunya aku. Dua orang cewek disuruh turun untuk bayar empat puluh ribu lagi buat tambahan. Penumpang yang lain juga menggerutu nggak ikhlas, karena uang dan kondisi bis tidak sebanding. Aku mulai tenang saat tahu ada penumpang yang bayar lebih mahal untuk tujuan yang sama. Ada yang bayar Rp. 120.000, bahkan ada yang bayar Rp. 200.000 dengan janji sampai ke tujuan jam 3 dini hari. Kupikir bis itu jurusan Pekalongan jadi aku bilang aja jurusan Pekalongan. Setelah tahu bis jurusan Solo, tak segan-segan aku ganti tujuan, dari Pekalongan ke Semarang. Sedikit licik memang. Sempat merasa bersalah juga. Tapi seratus ribu memang seharusnya sampai Semarang. Apalagi bis ecek-ecek gitu, joknya sudah rusak, AC mati, ditambah asap rokok, sampah dimana-mana (jelas ini ulah penumpang yang jengkel atau memang tak tahu diri). Untung aku tidak muntah darat.

Matahari mulai meninggi. Bapak Ibu sudah bertanya kabar “Tekan ngendi, Nduk?”

“Alas roban”

“Lho kok nembe tekan kono, numpak bis apa?”

“Bis elek tur ecek-ecek.”

“Yo wis, gak apa-apa. Sing penting selamet tekan omah.”

Ada satu penumpang yang bernasib lebih malang. Ia sudah keluarkan uang dua ratus lima puluh ribu rupiah. Mabuk darat lagi. Tiba-tiba aku merasakan kasih sayang Allah, perlindungannya senantiasa terasa saat aku berjalan sendirian. Belakangan aku dengar alasannya mengapa sampai memberi harga tiket seenaknya sendiri. Karena kejar target setoran. Misalkan setoran satu juta, dapat uang dua atau tiga juta. Kelebihannya masuk kantong pribadi dan untuk memberi makan para calo. Hidup di Jakarta memang susah, kata mereka “Cari yang haram saja susah, apalagi cari uang yang halal.”

Harusnya kita buka Al Qur’an, lalu baca surat An Nisa ayat 29 sebagai pengingat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu.”

PS:

· Hati-hati di Pulogadung, bawa tas yang tidak mudah direbut calo (ex. Tas punggung).

· Jika bohong diperlukan, berbohonglah yang cerdas.

· Kalau anda cewek hendaknya jangan jalan sendirian malam-malam (kecuali terpaksa seperti saya hehe…)

Be the first to comment - What do you think?

Posted by minehaway    Date: Friday, February 5, 2010

Categories: Story

Tags:

Cara Insert File Word ke Excel

“Kalo mau tanya tentang Office, sama Mimin dong.” Begitu saran Pak E pada Pak D. Tanpa nunggu lama-lama Pak D langsung menghampiriku. Membuka satu file .xlsx yang beberapa sheet sudah di insert file .docx oleh customer. Bagaimana cara insert file word, ketika dikirim via email bisa diterima oleh penerima email tentunya. Sementara kalau kita insert- hyperlink, mereka tak bisa mengakses data kita karena beda hard disk.

Saya yang sebenarnya nggak lihai-lihai amat dengan Office 2007, sempat bilang “waduh, yang ini saya belum pernah coba.” Tentunya bukan karena menyerah, bukan Mimin namanya kalau nggak utak-atik dulu. Malu juga kalau nggak bisa, apalagi Pak E sudah propose saya bisa. Bermodal satu kata BISA ternyata benar-benar bisa. Mau tau caranya?

Let’s check this out!

Buka file excel. Pilih insert di menu bar, lalu klik object. Browse file yang akan di insert. Lihat gambar dibawah ini.

Object Box

Object Box

Pilih display link atau icon lalu klik OK. Udah deh jadi.  Kalau kita double klik icon word itu, bisa buka file word yang dimaksud secara otomatis. Jadi kalau kita ingin menggabungkan 2 file excel & word (atau file apa saja) di Ms. Excel, tidak susah2 buat ulang file yang sudah kita buat sebelumnya.

Mudah bukan cara membuatnya :D.  Hasilnya seperti di bawah ini.

Jendela Excel dengan file word di dalamnya

Jendela Excel dengan file word di dalamnya

Selamat mencoba.

1 comment - What do you think?

Posted by minehaway    Date: Monday, January 18, 2010

Categories: Story

Tags:

Melawan Kekhawatiran / Ketakutan

Akhir-akhir ini saya menemui banyak orang yang merasa takut, khawatir ini khawatir itu. Jadi tangan ini gatal untuk posting tulisan yang sudah lama menjadi draft.

# 1 #

Ari melihat seorang Ibu menggendong anaknya berjalan sempoyongan. Seperti sedang kelaparan karena tangannya gemetaran. Ternyata Ibu itu seorang pemulung sampah yang sudah berjalan puluhan kilometer tanpa sesuap nasi. Saat itu Ari sedang keluar kantor, istirahat makan siang. Disakunya ada uang dua puluh ribu rupiah. Ari merasa iba, tapi tak merasakan kondisi pengemis tadi. Ia khawatir uangnya berkurag, sehingga uang itu tetap dikantongi. Karena dua puluh ribu itu untuk beli makan siangnya. Dan ia biarkan orang lain yang menyimpan uang untuk bekal di akhirat.

Hei…Tuhanlah yang ngasih makan kita, bukan Ibu warteg atau boss kita. Mereka hanyalah perantara saja. Anggap sebagai tabungan akhirat. Lepaskan rasa khawatir yang ada. InsyaAllah diganti olehNYA.

# 2 #

Pak Teguh memiliki sebuah mobil keluaran 1992. Ia selalu khawatir BPMnya (Bukti Pemilikan Mobil) hilang lalu disalahgunakan orang lain untuk agunan pinjaman uang. Setiap pergi, tak lupa ia membawa BPM mobil itu. Suatu saat apa yang ditakutkan ternyata terjadi. BPM yang selama ini dibawa kemanapun ia pergi telah raib entah kemana. Seluruh isi lemari telah dibongkar, BPM yang dicari belum menampakkan diri. Dimobil juga tidak ada. Beberapa yang dikunjungi mengaku tidak ada. Beberapa tempat yang telah dikunjungi mengaku tidak ada BPM yang tertinggal.

Kekhawatiran yang berlebihan itulah penyebab terjadinya apa yang kita khawatirkan. Jadi buang jauh-jauh rasa khawatir. Enyahkan kata khawatir dari kamus kehidupan anda. Sehingga tak ada yang musti dikhawatirkan lagi di dunia ini.

# 3 #

Andi bekerja di perusahaan swasta dengan gaji 1.5jt per bulan. Suatu saat saudaranya butuh uang 1.5 juta. Sementara uang itu untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan. Mulai dari makan satu bulan, bayar sewa rumah, komunikasi dan kebutuhan lainnya. Dalam pikiran Andi muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana hidupku satu bulan kedepan? Jika diberikan semua bagaimana nasib saya selanjutnya? Jika diberi sebagian, apakah bisa meringankan beban saudaranya? Disisi lain Andi tahu bahwa menolong wajib hukumnya bagi mereka yang meminta pertolongan. Apa yang Andi lakukan kemudian? Bingung bukan?

Andi coba melepaskan semua beban ketakutan & kekhawatiran. Lalu menjawab pertanyaannya satu persatu. Mengurai benang kusut hingga bisa menemukan benang merahnya. Satu kalimat penguat tindakannya bahwa “kita hanya boleh takut sama Allah”, setelah bibit kalimat itu ia tanam kuat-kuat. Tumbuhlah tanaman dan buah yang bisa dipetik.

Ibu Farida Hanum (penceramah Hikmah Pagi TVRI) pernah menyampaikan perumpamaan yang cukup menggelitik: ada sepasang manusia yang pergi malam mingguan hingga larut malam. Saat pulang melewati Tanah Kusir, mereka melihat bayangan daun pisang bergerak-gerak. Mereka ketakutan, karena berfikir itu hantu. Semakin merasa takut, sehingga lari terbirit-birit. Bahkan terkencing-kencing di jalan karena begitu takutnya. Itu disebabkan oleh kesalahan otak dalam membaca suatu keadaan.

Misalnya kita punya iman 10, lalu kita merasa takut maka iman berkurang 1, merasa lebih takut lagi akan berkurang 1 lagi iman kita. Jika ketakutan itu semakin bertambah, habislah iman kita.

Agar kita bisa melawan kekhawatiran / ketakutan adalah menanamkan rasa takut hanya pada-NYA, melawan dengan tindakan (keberanian yang harus dipaksakan).

Be the first to comment - What do you think?

Posted by minehaway    Date: Wednesday, January 6, 2010

Categories: Story

Tags:

Daun Cinta

Saat kurang kerjaan, melihat daun, lalu lahirlah puisi ini di bawah pohon rindang, mata menerawang, memandang, membayang. Rindukan kasih sayang.

***

Sejuk menusuk

Kasak kusuk perut kukuruyuk ngantuk

Lekuk terbentuk

Bayang pungguk menunduk

Mengeruk daun-daun busuk

Kuukir kata di atas daun cinta

Memikirkan rasa yang tak tersampaikan lewat suara

Daun cinta,

Bawalah pesan cinta padanya

Agar dia tahu betapa aku mencintainya

Bentangkanlah sayap kata-kata

Mengudara

Jemput dia

Untuk sembuhkan luka

Pondok Indah, 1o Mei 2009

Be the first to comment - What do you think?

Posted by minehaway    Date: Sunday, December 13, 2009

Categories: Poetry

Tags:

Next Page »