Review
Bertahan Demi Kenyamanan
Oleh : Mimin Ha Way
Judul Buku : Mengapa Bertahan di Negeri Orang (Penuturan wanita-wanita tangguh Indonesia, untuk kejayaan negeri tercinta Indonesia).
Penulis : Jumiarti Agus, Irawati Prilia, Cahayahati, Mieke Nurmalasari, Yuli Nava, Deshinta A. Dewi, Nonong Syamsiar, Mulia Kemalwaty, Verni Juita, Sarah Abdurrohmah
Penerbit : Aku Cinta Indonesia Publishing
Tahun Terbit : 2008
Halaman : xxii + 222 halaman
No. ISBN : 978-979-16415-2-4
Berawal dari sebuah pertanyaan yang diajukan kepada wanita wanita tangguh Indonesia. Mengapa bertahan di Negeri orang? Faktor apa saja yang membuat mereka betah tinggal di luar negeri? Apa tidak ingin kembali ke Indonesia? Jadilah satu buku yang menjawab semua pertanyaan itu. Bukan karena tidak cinta Indonesia, tapi justru karena mereka cinta Indonesia, sehingga mampu bertahan dan berprestasi di luar negeri. Berharap dengan lahirnya buku ini bisa membuka mata Indonesia agar mau mengikuti jejak negara-negara maju.
Ada tujuh Negara yang dibahas dalam buku ini yakni Jerman, Belgia, Malaysia, Amerika, Jepang, Australia, Kairo. Adalah Jumiarti Agus, Irawati Prilia, Cahayati, Mieke Nurmalasari, Yuli Nava, Deshinta A. Dewi, Nonong Syamsiar, Mulla Kemalwaty, Verni Juita, Sarah Abdurrohmah mengumpulkan alasan-alasan mereka mau bertahan di negeri orang. Mereka lah wanita-wanita tangguh yang menentukan pilihan bertahan hidup di negeri orang. Dan merupakan prestasi luar biasa jika mereka mampu bertahan sampai bertahun-tahun lamanya. Rata-rata mereka mendapatkan kenyamanan dan ketenangan Karena kenyamanan merupakan harga mahal yang tak terbayar jika tinggal di negeri sendiri.
Judul pertama “Inilah Alasan Kami Memilih Bertahan di Negeri Orang” oleh Irawati Prilia, Hidup di negeri orang telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Karena bekerja di Negara maju bisa mendapatkan gaji lebih tinggi dibandingkan dengan gaji di Indonesia. Misalnya di Jerman, “Insinyur fresh graduate (baru tamat) saja bisa mendapatkan gaji Rp. 456 juta dalam setahun, atau setara dengan Rp. 38 juta perbulan.” (Irawati Prilia, hlm. 7)
Pemerintah Jerman sangat memperhatikan orang yang kurang mampu, pengangguran, manula. Mereka semua diberi tunjangan, mendapatkan bantuan biaya rumah, listrik dan lain-lain. Sarana informasi di Jerman murah meriah, Langganan internet 24 jam dengan kecepatan 1024 kbps hanya Rp. 300.000. Biaya telepon juga murah.
Kedua “ Saya, Menyatu Dalam Denyut Kota di Jerman” oleh Cahayati. Sistem perpajakan dan asuransi di Jerman yang baik merupakan salah satu faktor yang membuat imigran di Jerman betah. Pajak pendapatan dibagi menjadi enam kelas yang ditentukan oleh ‘kartu pajak pendapatan’, ada juga kelompok bebas pajak. Jenis asuransi di Jerman ada banyak sekali, antara lain asuransi kesehatan, pendidikan, kecelakaan, jiwa dan sebagainya. Jerman merupakan negara wajib asuransi kesehatan, pemberi pekerjaan wajib membayar sebagian dari asuransi kesehatan para pegawainya.
Kualitas pendidikan di Jerman jelas lebih bagus dibandingkan dengan Indonesia, karena Jerman sebagai pusat teknologi dan sains di Eropa. Biaya pendidikannya juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara industri lainnya. Saya suka peribahasa Jerman yakni “Not macht erfinderisch” (suasana darurat membuat kreatif). Dari helm tentara menjadi saringan panic, dari bagian penutup gas wajah menjadi teko minuman. (Cahayati, hlm. 28)
Berbeda dengan Indonesia yang sekarang ini sedang marak pemadaman listrik bergilir. Pemadaman listrik alias blackout tidak akan terjadi di Jerman karena jaringan listrik mengalir ke pemakai dari dua sisi. Bila ada satu aliran mati maka aliran lain akan terisi, ditunjang dengan dekatnya pembangkit tenaga listrik dengan pemakai.
Setelah Jerman, kita bisa mengetahui seluk beluk Belgia. Salah satu kota tertua di Belgia yang terkenal adalah kota Tongeren. Jika anda menyukai suasana pedesaan, Tongeren cocok dijadikan sebagai tempat tinggal karena suasananya yang tenang. Saat weekend, kita bisa jalan-jalan di pasar antik (antiek markt) Tongeren. Pasar ini cocok bagi mereka yang senang berburu barang antik dan berjiwa seni tinggi.
Ketiga “Hidup di Belgia” oleh Mieke Nurmalasari. Satu hal yang menarik dari Belgia adalah ketertiban lalu lintas dan sarana umum yang ramah untuk orang cacat. Khususnya bagi mereka yang bepergian pakai kursi roda, pintu bus bisa diturunkan mendekati sejajar dengan trotoar sehingga kursi roda bisa masuk dengan mudah. Begitu pula dengan penanganan masalah sampah yang sudah tertib. Selalu membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah dan membuat jadwal pengangkutan sampah.
Kalau di Indonesia, anak yang berumur 4 tahun baru bisa sekolah, lain halnya di Tongeren. Anak berumur 2.5 tahun sudah boleh masuk ‘playgroup’. Biaya pendidikan dari playgroup sampai SMU gratis. Ada fasilitas antar jemput gratis dengan bus sekolah untuk anak di bawah umur 6 tahun.
Mutualiteit (asuransi kesehatan) adalah kebutuhan utama di Belgia. Biaya kesehatan yang ditanggung asuransi 75% dan 90 % untuk omniostatus (pendapatan dibawah rata-rata). Opname di rumah sakit sangat mudah dan cepat sekali, tinggal menunjukkan mutualiteit, maka semuanya lancar. Pembayaran tagihan kira-kira dua bulan kemudian dengan tempo 30 hari dari tanggal menerima surat tagihan. “Dari segi pelayanan masyarakat, terutama sektor pendidikan dan kesehatan, bisa diteladani oleh pemerintah dengan berusaha memberikan alokasi yang lebih untuk dua bidang ini agar proses mendapatkan anak bangsa yang sehat dan cerdas bisa dicapai.” (Mieke Nurmalasari, hlm.59)
Keempat “Mengapa Saya Betah Hidup di Malaysia” oleh Deshinta Arrova Dewi. Sama halnya dengan Malaysia, Deshinta A. Dewi mengaku bisa merasakan ketenangan hidup di Malaysia selama bekerja disana. Sebagai Negara yang kental dengan nilai-nilai islam, pengenaan busana muslim (baju kurung) merupakan hal yang biasa karena sudah menjadi ciri khas Malaysia. Infrastruktur Malaysia yang baik juga menjadi alasan mengapa Deshinta betah tinggal disana. Karena system transportasi, kualitas jalan raya di Malaysia setara dengan Eropa. Teknologi informasi juga tidak kalah dengan Negara Eropa. Seperti teknologi kereta api komuter, light rapid transportation dan monorail. Semuanya menggunakan platform listrik dengan landasan yang kukuh.
Sistem perekonomian islam sudah diterapkan di Malaysia. Pemerintah sangat memperhatikan zakat, karena zakat merupakan pondasi perekonomian islam. Dari zakatlah bisa mengurangi angka kemiskinan. Pemerintah Malaysia juga menindak tegas pengemis yang berkeliaran. Birokasi yang tidak berbelit di Malaysia, memberikan kemudahan dalam pembuatan SIM dan visa. Seperti halnya Jerman, di Malaysia memberi gaji yang memadai.
Kelima “Kenyamanan yang Dirasakan Selama Tinggal di Jepang” oleh Nonong Syamsiar, Keenam “Kenyamanan dan Kebetahan Hidup di Negeri Sakura” oleh Jumiarti Agus, Ketujuh “Mengapa Betah di Jepang?” oleh Mulla Kemalwaty. Jepang merupakan salah satu negara impian yang masuk daftar untuk dikunjungi. Pelayanan publik sangatlah baik. “Berurusan di kantor-kantor Jepang sangat menyenangkan. Setiap urusan tidak membutuhkan uang.” (Jumiarti Agus, hlm 109) Setiap orang wajib antri untuk mendapatkan hak pelayanan publik. Ada layanan khusus untuk orang asing yakni bagian International center. “Tidak ada istilah uang pelican, atau tip-tip untuk melancarkan suatu urusan. Karena semua merasa apa yang dilakukan itulah profesi mereka. Mereka bekerja penuh tanggung jawab. Adalah suatu kepuasan dan prestasi bagi mereka apabila pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik.” (Nonong Syamsiar, hlm 79).
Kebersihan di Jepang sudah tidak bisa diragukan. Teknik pembuangan sampah di Jepang tergolong unik. Semua jenis sampah dibuatkan jadwal pembuangan. Seluruh jadwal pembuangan sampah dibagikan pada seluruh masyarakat Jepang. Tidak ada pembakaran sampah daun-daun kering yang sering kita jumpai di Indonesia. Tidak ada kekhawatiran saat bepergian di Jepang, karena tingkat kriminalitas di Jepang sangat kecil.
Sarana transportasi di Jepang tentu lebih lancar dan aman dibandingkan transportasi di Indonesia. Densha (kereta listrik) salah satu transportasi murah, cepat. Taksi jujur tersedia 24 jam dan mudah untuk mendapatkannya. Hal unik lainnya seperti tunjangan bagi ibu-ibu yang melahirkan baik warga asli Jepang maupun pendatang sama-sama mendapat hadiah setelah melahirkan.
Pribadi orang Jepang yang terkesan tertutup tapi mereka termasuk tipe orang yang menghargai orang lain. Jika sudah kenal dekat dan bersahabat baik, mereka tidak segan membantu kita. Ucapan terimakasih dan kata penyemangat selalu dikatakan sebagai wujud penghargaan. Mereka juga mudah meminta ma’af dan memiliki kebiasaan menyapa misalnya omataseshimashita (ma’af anda telah menunggu). “Pada prinsipnya kalau kita tidak mengganggu dan membahayakan mereka, kehadiran kita bukanlah masalah bagi mereka.” (Nonong Syamsiar, hlm. 88)
Tingkat kemakmuran di Jepang sudah merata, terbukti dengan sedikitnya jumlah gelandangan, penduduk yang berpenghasilan rendah akan membayar uang sekolah lebih murah. Pemerintah benar-benar memanfa’atkan uang pajak untuk pembangunan dan kemakmuran rakyatnya.
Tinggal di negeri Sakura, serba benri (mudah) seperti belanja kebutuhan sehari-hari cukup berjalan kaki. Beli barang secara online juga bisa mendapatkan jenis produk secara detail sehingga ketidaksesuaian produk yang dipesan dengan produk yang dikirim jarang terjadi. Karena semua didasarkan dengan kejujuran yang tinggi dan saling percaya.
“Selama lima tahun tinggal di Jepang, saya merasakan banyak kenyamanan.” (Mulia Kemalwati, hlm. 119). Kenyamanan tidak ia dapatkan di tanah kelahiran. Contoh kecil misalnya makanan yang dijual disupermarket terjamin kualitasnya. Produk dalam kemasan terpampang dengan jelas kandungannya. Harga barang relatif stabil sehingga tidak was-was dengan kenaikan harga.
Kedepalan “Ketika saatnya memilih : Catatan Hidup Selama Tinggal di Amerika” oleh Yuli Nava. Dia menceritakan keingintahuannya tentang negeri orang sejak masih kecil dengan membongkar-bongkar ensiklopedi milik pamannya. Lalu menjelma menjadi fantasi kanak-kanak yang dipenuhi gambaran ala western. Sehingga takdir hidup menuntunnya sampai ke Amerika.
Amerika sebagai negara adidaya dengan segala atribut kekuasaannya dengan fasilitas yang ditawarkannya, keteraturan dan kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri membuat Yuli Nafa memilih bertahan di Amerika mengikuti sang suami. Beberapa factor mengapa masih banyak orang yang ingin berhijrah ke Negara lain yakni Faktor ekonomi salah satu alasan mengapa bertahan di Amerika? Kerja di Amerika dengan iming-iming dollar tentu membuat para imigran berbondong-bondong mengadu nasib di negeri adidaya ini. Faktor keamanan yang tidak di peroleh dari tanah kelahiran sehingga mencari negara lain yang mampu mengayomi. Faktor penghargaan financial yang layak. Penghargaan secara financial terhadap prestasi dan hasil kerja di Indonesia masih jauh dari harapan. Misalnya disparitas antara tenaga kerja local dengan tenaga kerja asing. Sudah menjadi rahasia umum tenaga kerja asing dihargai dan digaji berpuluh kali lipat dibanding dengan tenaga lokal meski keahlian dan kemampuannya sama.
Kesembilan “Mengapa Saya Betah Hidup di Australia?” oleh Verni Juita, Verni empat gelisah saat mendengar berita kelulusan beasiswa Australian Partnership Scholarship (APS). Bertanya-tanya apakah mampu bertahan dan betah tinggal di Australia. Ada toleransi dan ketengangan dalam beribadah sehingga membuat Verni merasa nyaman tinggal di Australia. Negara yang berpenduduk multikultural tentu menganggap perbedaan sebagai hal yang biasa. Pemerintah Australia juga sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ada subsidi yang memberikan keringanan fasilitas kesehatan, sekolah gratis di public school (sekolah gratis), dan memberikan family allowance. Tempat yang nyaman dan lingkungan yang ramah juga membuah Verni betah hidup di Australia. Seperti kota Brisbane yang bebas polusi dan hijau. Tata kotanya teratur dan indah. Ditambah dengan fasilitas pendidikan yang lengkap dan mudah diakses.
Yang terakhir “Berkelana di Negeri AnbiyaSisi” oleh Sarah Abdurrohmah. Anbiyasisi adalah sebutan untuk Mesir sebagai negeri para nabi yang kaya dan memiliki sejuta sejarah. Motivasi hidup di negeri Mesir antara lain untuk menuntut ilmu atau bekerja. Buku ini juga menggambarkan keadaan Mesir seperti iklim di Mesir : musim panas (Ash-Shaif), Musim gugur (Kharif), musim dingin (Asy-Syita) dan musim semi (Ar-Rabi’).
Mesir terkenal dengan pertaniannya. Buah-buahan hadir sesuai musimnya, seperti buah musim panas yang banyak airnya seperti semangka, melon, anggur, peach (khukh), mangga dan lain-lain, sedangkan musim dingin banyak dijumapai buah yang mengandung vitamin C untuk menjaga diri dari hawa dingin dan angin kering.
Arsitektur bangunan rumah di Mesir berbentuk apartemen/flat 5 atau 6 lantai. Dengan tata letak yang menarik yaitu jarak daerah pabrik dengan rumah warga yang begitu jauh. Sehingga polusi udara di Mesir sangat minim sekali. Diluar Kairo, jumlah tingkat bangunannya tidak terlalu tinggi dan harga sewa nya lebih rendah dibandingkan dengan daerah perkotaan.
Biaya hidup di Mesir relatif murah, sehingga banyak masyarakat Indonesia yang bertahan hidup di Mesir. Harga sewa rumah pun murah. Bahan makanan pokok repatif sangat murah, dengan Rp 3.500 bisa mendapatkan 1 kg beras. Biaya perkuliahan juga murah khususnya di Universitas Al Azhar. Bahkan tahun pertama, Sarah abdurohmah tidak dipungut biaya sama sekali alias majjanan (cuma-cuma). Selain itu penuntut ilmu sangat dimuliakan dan diberi kemudahan. Misalnya kemudahan mendapat beasiswa, biaya melahirkan bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga, musa’adah (bantuan) berupa makanan pokok, pakaian dan lain-lain.
Sampai di subjudul ini kita juga bisa mengetahui system pendidikan di Al Azhar yang berbeda dengan system pendidikan lainnya. Al Azhar tidak menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS) tapi menggunakan system perpaket. Setiap tingkat ada paket-paket yang harus diselesaikan. Mahasiswa dituntut kesadarannya untuk hadir kuliah karena banyaknya jumlah mahasiswanya. Hanya beberapa mata kuliah (madah) yang diwajibkan untuk hadir.
Selain pemaparan tentang kemajuan sebuah Negara, buku ini juga memberikan kiat meraih kesuksesan di negeri orang. Kunci suksesnya antara lain yang bersangkutan benar-benar bekerja dibidang yang disukainya, dan menyukai apa yang dikerjakan, harus bekerja keras, harus mengetahui jelas peradaban, budaya dan etika pribumi, bekerja jujur dan professional,
Bahwasanya suatu Negara bisa dikatakan maju apabila kondisi rakyatnya sejahtera. Ciri-ciri Negara maju antara lain pemerintah yang cinta rakyat, dari ketujuh Negara tersebut memiliki pemerintah yang selalu berpikir dan berbuat nyata untuk kesejahteraan rakyat. Memiliki kebijakan yang baik dan memperhatikan warga yang berpenghasilan rendah dengan tidak membiarkan mereka hidup sengsara, memberikan fasilitas-fasilitas pendidikan, kesehatan agar dinikmati rakyatnya. Ciri Negara maju lainnya, rakyat berjiwa mulia dan cinta negerinya dengan berbuat yang terbaik, mematuhi peraturan yang telah ditetapkan pemerintah. Sehingga tercipta suasana nyaman, aman dan damai, membuat setiap insan betah tinggal disuatu Negara.
Buku ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang sedang atau ingin hidup di negeri orang tapi masih bimbang dan tidak mampu bertahan di luar negeri. Karena penulis memberikan semangat serta nilai-nilai positif suatu Negara lalu membandingkan dengan kondisi di Indonesia. Menekankan rasa aman dan nyaman, kesempatan mengembangkan karir lebih luas, mudahnya memenuhi kebutuhan hidup, kualitas pendidikan yang lebih baik dari negeri sendiri
Secara kelesuruhan buku ini informatif sekali dan menyelipkan harapan bahwa Indonesia kelak bisa seperti negara-negara maju dengan sajian kenyamanan dan ketenangan. Ada yang berbeda dari buku ini jika dibandingkan dengan buku tentang negara-negara maju lainnya. Karena buku ini sebuah pembelaan bahwa tinggal di negeri orang bukan karena mereka tak cinta Indonesia, tapi justru mereka ingin mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Mereka adalah duta Indonesia yang mampu menahan rasa rindu pada keluarga, mampu bertahan dengan gaya hidup yang rata-rata berbeda dengan Indonesia. Dan buku inilah ungkapan cinta mereka pada Indonesia. Agar Indonesia bisa berjalan seiring dengan negara-negara maju.
Ada satu hal yang mengganggu saya saat membaca buku ini, yakni penempatan link sumber artikel yang tidak diletakkan di daftar pustaka atau footnote, melainkan langsung di akhir kalimat.




