Go to Ragunan With Seli
Make something different if you feel bored. Kalimat yang muncul dari mulut bossku itu saya ingat sampai detik ini. Biasa jalan kaki, biasa naik angkutan, mobil boss. Jadi saya ingin mengikuti acara kantor “fun bike” sampai ke Ragunan. Konsekuensinya pegel-pegel sampai dua hari ini. Padahal saya hanya sekali jalan. Pulangnya naik mobil :P, daripada saya pingsan hingga membuat orang kerepotan.
Dengan seli (sepeda lipat) milik mbak Ratih, saya telusuri jalan Arteri Pondok Indah lewat Cilandak Town Square. Ada beberapa tanjakan yang harus saya lewati sehingga membuatku kepayahan. Sementara saya belum lihai oper gigi. Kalau sudah terasa aneh gowes, baru saya oper gigi hingga pas. Pas tanjakan otomatis pakai gigi 1, itupun masih berusaha sekuat tenaga agar bisa sampai dengan sukses. Kuncinya tubuh condong ke depan, agar bisa menggowes dengan ringan. Hal yang paling saya senangi saat melewati turunan. Sensasi melayang tanpa susah payah gowes, ringan, sejuk sampai saya senyum-senyum sendiri. Sampai tikungan sedikit kebingungan, untung ada Pak Handi yang setia mengawal saya. Dibantu menyeberang, diarahkan juga. Saat saya capek, suruh istirahat dulu biar rileks. Karena pertama kali gowes di Jakarta dengan medan yang lumayan sulit, saya selalu berada di belakang :D. Jelas kalah kalau dibandingkan dengan rombongan yang sudah biasa bike to work.
Sampai di Ragunan, saya dapat ucapan selamat dari Mbak Ratih. Ada juga yang meledek “Mimin mana? sudah sampai belum? Oh udah ya.., berarti yang lain sudah sampai” Wekeke…saya jadi barometer kecepatan gowes. Habis orangnya masih pantes pakai seragam TK / SD cewek, maksa ikutan gowes pula. Setelah istirahat sejenak, kita masuk kebun binatang Ragunan. Keliling-keliling sampai di danau. Makan-makan, foto session lalu lihat buaya sebentar. Lanjut keliling lagi, dan hujan lebat turun. Kita berteduh sebentar, lalu melanjutkan petualangan. Tapi bossku mempersilakan untuk melipat seli dan ikut mobil.
Ceweknya saya, Mbak Ratih dan Mrs. Bobby. Dan cewek hebat yang tetap bertahan gowes saat pulang adalah Mbak Ratih. Salut to Mbak Ratih. Memang Ragunan tak sebanding dengan Depok-Jaksel-Depok. Pantes saja Mbak Ratih mampu menakhlukkannya. Kalaupun dipaksa, saya yakin tubuhku juga kuat. Sempat mampir makan coto Makasar di jalan Ampera. Benar-benar kenangan tak terlupakan.
Jejak Pulau Seribu
Pertama tertarik dengan trip ini karena murah. Dengan merogoh kocek dua ratus ribu rupiah sudah bisa sampai ke Pulau Air, Pramuka, Karya, Karamba, Semak Daun, Semut. Sebenarnya saya sudah putuskan untuk gak ikut, karena kuota 20 orang sudah terpenuhi. Tapi karena saya berhasil melobi Sinta sebagai Team Leader 1, jadilah saya Team Leader 2 yang harus ngumpulin 20 orang lagi. Menolong teman-teman yang sudah ditolak Sinta. Tapi ada yang cancel last minute,, jadilah 33 orang (15 tim Sinta, 17 timku).
Berangkat jam setengah lima lewat. Karena ada 5 orang yang belum datang, kapal tertunda keberangkatannya. Bukan karena itu sih, kapal nya over load dan ketahuan sama pengawasnya. Dan tim 33 disuruh turun. Walhasil kuota kapal berkurang. Dengan semangat 45 kita sewa kapal umum “Cinta Alam” (CP : 081807839002) seharga 3 jeti untuk 100 orang. Awalnya baru terisi 60 orang, jadi kita musti tambah dua puluh ribu. Detik-detik terakhir sudah ada 100 orang. Jadi uangnya bisa buat makan malam. Sayangnya kapal telat datang, kita baru berangkat jam sepuluh lebih. Untung air laut cukup tenang jadi bisa lihat pemandangan luar.
Pulau Pramuka
Sampai di Pulau Pramuka waktu dzuhur. Ambil fin snorkeling, tapi fin XS sudah habis, jadi saya gak kebagian dah. Dapat fin nomor 38-40, kemungkinan lepas di air karena kegedean. Setelah kehilangan jejak kawan-kawan, akhirnya bisa menemukan home stay. Setelah makan dan sholat, kita langsung jalan ke Pulau Air untuk snorkeling.

Pulau Pramuka
Pulau Air
Pulau Air cocok buat yang baru belajar snorkeling. Jadi sebelum praktek, kita latihan dulu di pulau ini. Saya sempat diajarin guide, tapi gak tahan karena hidungku perih setiap air laut masuk, jadi gak latihan optimal. Apalagi ditambah dengan cerita teman yang melihat bulu babi. Jadi tambah khawatir. Rugi memang, karena gak bisa lihat keindahan terumbu karang emas. Meskipun pake pelampung, tapi tiap ada air masuk, saya gak tahan. Makhlum gak bisa renang, bisanya hanya gaya batu. Cuman bisa mupeng lihat teman-teman yang nyelam dan foto bersama terumbu karang. Snorkeling, Swimming, Diving itu jelas beda. Snorkeling bisa dilakukan siapapun meski belum bisa renang, karena ada jaket pelampung, kaki katak bisa digerakkan naik turun seperti mengayuh sepeda. Tujuannya agar bisa lihat pemandangan laut. Swimming jelas pake gaya katak dll. Diving musti tahan nafas, atau manfaatin kapal selam agar bisa foto bareng biota laut. Jika Swimming, Snorkeling, Diving di mix pastilah menyenangkan. Jadi saya harus belajar renang. Satu lagi pesan dari guide, jangan panik!
Ada sedikit cerita yang bikin perutku kram karena tertawa. Ada yang gak bisa renang tapi dia gak mau rugi, harus bisa lihat semua karang. Dengan ngandalin pelampung dia nyebur ke laut. Walhasil dia tabrak sana tabrak sini. Lucu lagi temanku yang takut tenggelam, setiap nyebur pasti teriak “tolong…tolong!” parahnya lagi sakin takutnya dia pepsi dilaut :D. Saya juga coba sekali saja, habis itu naik kapal lagi, karena sudah kemasukan air hiks…
Pulau Karya
Disebut Pulau Karya karena tempat orang-orang berkarya. Tiba disana langsung foto bersama. Habis nyebur laut dan masih basah-basah jadi kedinginan dah. Banyak buah pinus kering yang bisa dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. Rencana hunting sunset di Pulau ini, tapi sayangnya pengin pepsi. Waktu balik ke pantai, matahari sudah tenggelam hiks…, Tinggalah foto-foto narsis abis yang menuhin kamera.
Pulau Karamba
Sampai di Pulau Karamba cuman booking tempat buat makan malam di Nusa Karamba Resto. Pulang ke penginapan dulu, bersihin badan lalu balik lagi ke restoran. Dilanjutkan karaokean. Lihat pemandangan laut di malam hari. Di resto ini jadi tahu CP For Hire Nusa Karamba
(08161699636 & 021-70326644) bisa sewa kapal, alat pancing dll.
Pulau Semak Daun
Berangkat jam 5 pagi, tapi kapal belum datang. Padahal kita ngejar sunrise, untung masih bisa dapat foto sunrise. Sampai di Pulau ini, bakat wartawan jadi kambuh ciee.., saya wawancara tepatnya ngobrol-ngobrol dengan nahkoda, sambil lihat teman2 terjun ke laut. Namanya M. Soleh, sudah 47 tahun beliau hidup disekitar laut dan sudah jelajah Pulau Seribu. Sebenarnya Pulau Seribu gak ada seribu pulau, hanya sekitar 113 pulau. Pulau terakhir (baca: pulau ke 13) namanya Pulau Serbia. Masing-masing pulau memiliki sejarah yang unik. Dan tidak cukup sehari untuk mempelajarinya. Pak Soleh tinggal di Pulau Panggang, beliau juga bercerita tentang penanam rumput laut. Benih rumput laut sepanjang 60 meter seharga 160 ribu. Kesuburan rumput laut dipengaruhi oelh musim, kondisi air. Masa panen 40 hari, kadang untung kadang rugi. Rumput laut yang subur setahun bisa meraih untung besar, tapi karena kurang sedekah jadi setahun bisa rugi. Prediksi karena tercemar tapi ternyata bukan, seperti terkena hama(baca : kutu air) tiba-tiba memutih dan terkelupas lalu lepas. Tapi rumput dalam kondisi seperti itu masih bisa dimakan juga.
Pulau karya juga cocok untuk camping. Tapi tidak seperti Pulau Pramuka yang lengkap fasilitasnya. Saya dapat info dari salah satu anak Klub Selam IPB (Institut Pertanian Bogor) yang sedang camping disitu. Dia bilang harus pake genset untuk bisa dapat aliran listrik. Juga musti ngasih uang buat penjaga pulaunya.
Pulau Semut
Berhubung laut lagi surut, kita gak bisa menjejakkan kaki di Pulau Semut. Cuman bisa melihat dari kapal. Keunikan pulau ini adalah kecil makanya disebut Pulau Semut dan hanya ada pasir putih.
Penangkaran Sisik
Dari pulau Semut kita kembali ke Pulau Pramuka, tepatnya di penangkaran penyu jenis sisik. Melihat telur penyu sampai penyu gedhe. Disini kita dapat penjelasan panjang lebar dari Pak Salim yang pernah dapat penghargaan dari gubernur DKI Jakarta. Karena kepiawaiannya mengembangbiakkan penyu, mangrove dan tanaman lainnya. Sehari bisa mengeluarkan 15 ekor. Agar bisa mengetahui bayi penyu itu betina atau jantan, kita butuh 3 bulan agar bisa mengenalinya. Penyu tak hanya makan ikan, makanan apa saja yang dilihat penyu bisa dimakan tutur Pak Salim. Penyu mati saja dimakan, apalagi karang, ayam dll.
Penanaman mangrove di Pulau Seribu bisa karena pasirnya cocok untuk penanaman mangrove. Bibitnya bisa diperoleh dimana-mana. Dipagar dua sampai tiga bulan sudah tingi-tinggi. Ada banyak jenis mangrove yang Beliau sebutkan, tapi tak satupun nempel dikepalaku he…, penuturannya yang sangat cepat sehingga tak tercatat di HP.
Pak Salim juga memperlihatkan tanaman pengusir nyamuk yang ditanam di tempat khusus buatannya. Dimana tanahnya sudah dicampur dengan limbah kayu gergajian. Sehingga bisa tumbuh subur. Beliau bisa jual bibit zodia seribu rupiah.
Dari trip ini saya banyak belajar tentang kehidupan, pertemanan. Telintas bayangan jika diriku yang hanya bisa gaya batu saat berenang, lalu kapal karam, pastilah saya langsung tenggelam. Eh gak ding, kan ada pelampung. Tapi pelampung tak banyak menolong, buktinya saat snorkeling saya kemasukan air juga. Perjalanan pulang ombak nya mengerikan katanya. Saya gak lagi melihat pemandangan luar waktu itu, hanya duduk terdiam lalu merebahkan tubuh karena hampir mabuk laut.
Panjang juga ya postingannya. Nge draft sampai 3 hari fiuh…
Team Leader 1 bikin video special untuk trip ini, silakan tengok di sini
Foto-foto lain bisa dilihat di FB ku.



